top of page

Fashion for Social a Cause : Uniqlo and Sustainable Fashion, Fakta atau Gimmick?

  • Writer: Cultural Threads
    Cultural Threads
  • Dec 19, 2025
  • 5 min read

Saat ini, fashion telah menjadi bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat modern. Pakaian tidak hanya berfungsi untuk menutupi tubuh, tetapi juga menjadi sarana dalam menampilkan identitas diri, gaya hidup, dan nilai sosial seseorang. Seiring dengan berkembangnya industri fashion, muncul berbagai permasalahan lingkungan mulai dari pencemaran air, meningkatnya limbah tekstil dan lainnya. 


Kampanye “Unlocking the Power of Clothing” Uniqlo / designsingapore.org
Kampanye “Unlocking the Power of Clothing” Uniqlo / designsingapore.org

Isu lingkungan dalam industri fashion : contoh brand Uniqlo

Salah satu isu lingkungan yang paling besar dalam industri fashion yaitu limbah tekstil. Proses produksi pakaian dalam jumlah yang banyak membuat tren fashion cepat berubah. Hal ini tentunya dapat mengakibatkan pakaian yang seharusnya masih layak dipakai kemudian dibuang karena dianggap sudah ketinggalan zaman. Mengingat besarnya dampak industri fashion terhadap lingkungan, terdapat salah satu brand fashion terkenal yang mencoba mengatasi isu lingkungan yaitu Uniqlo. Brand ini mencoba merespon akan isu tersebut melalui kampanye “Unlocking the Power of Clothing”, kampanye ini mengangkat gagasan bahwa pakaian mempunyai kekuatan untuk meningkatkan hidup manusia. Tetapi, dibalik pesan positif yang disampaikan baik melalui kampanye maupun website resminya, muncul pertanyaan-pertanyaan tentang sejauh mana kampanye tersebut dapat membawa perubahan atau justru berpotensi menjadi bentuk greenwashing. Dilansir dari artikel kompas.co greenwashing sendiri yaitu strategi pemasaran untuk menampilkan citra ramah lingkungan, tetapi pada kenyataannya tidak demikian. 


Uniqlo Collections / thekit.ca
Uniqlo Collections / thekit.ca

Fashion dan masalah : Analisis Sosiologis

Menurut Jean Baudrillard (1970) menjelaskan bahwa masyarakat modern seringkali mengkonsumsi suatu barang bukan berdasarkan pada fungsinya, melainkan karena makna simbolik yang melekat pada barang tersebut, salah satunya yakni fashion karena fashion sendiri telah menjadi identitas diri dan gaya hidup seseorang. Ketika seseorang membeli bukan lagi karena fungsi maka akan mengakibatkan adanya proses produksi dan konsumsi yang terus-menerus meningkat yang mana hal ini akan berdampak pada lingkungan. Berdasarkan contoh pada brand Uniqlo yang mencoba merespon akan isu lingkungan yang kini menjadi bahan perbincangan masyarakat, Uniqlo sendiri membuat kampanye “Unlocking the Power of Clothing”. Tetapi dengan adanya kampanye ini menimbulkan masalah baru dimana terjadi ketidakseimbangan antara klaim sustainability (keberlanjutan) dengan kampanye yang dilakukan Uniqlo, hal ini terlihat brand tersebut masih beroperasi dalam industri fast fashion. 


Adanya masalah tersebut, muncul pertanyaan-pertanyaan dari masyarakat mengenai tindakan yang dilakukan Uniqlo sesuai atau tidak dengan klaim keberlanjutan. Dilansir dari artikel Goodstats.id fast fashion memberikan dampak buruk bagi lingkungan, menyumbang hampir 10% emisi karbon global dan membuang jutaan pakaian ke tempat sampah setiap hari. Proses pewarnaan dan finishing kain menyumbang 3% emisi CO2 global serta lebih dari 20% polusi air global. Selain berdampak buruk terhadap lingkungan, berdampak juga bagi  konsumen, dimana mereka merasa dibohongi, dimanipulasi karena praktik konsumsi fashion yang dinilai dapat menjadi upaya keberlanjutan tidak mampu menghasilkan output yang baik karena adanya klaim palsu dari brand. Tak hanya itu, masyarakat juga akan menjadi ragu untuk membeli barang yang dinilai ramah lingkungan. 


Ide atau konsep inti  

Berdasarkan permasalahan terkait isu lingkungan, terdapat usulan inisiatif berbasis fashion yang bertujuan untuk mengurangi limbah tekstil dan budaya konsumsi yang berlebihan dengan memperpanjang siklus hidup pakaian melalui praktik perawatan, daur ulang, melakukan perbaikan dan menyediakan sewa pakaian. Adanya inisiatif ini diwujudkan melalui program “Uniqlo LifeWear Loop”. Program ini dirancang untuk menanggapi adanya kritik terhadap praktik fast fashion dan potensi adanya greenwashing dari brand tersebut. Selain itu, program ini berlangsung sesuai dengan prinsip bahwa tanggung jawab terhadap pakaian tidak berhenti pada proses pembelian, tetapi tetap dapat terus berlanjut selama pakaian tersebut masih digunakan. Maka dari itu, program ini juga melibatkan konsumen yang aktif dalam menjaga kesejahteraan lingkungan. 


Program ini dapat dimulai sejak konsumen membeli produk Uniqlo, setiap pembelian akan otomatis tercatat dalam sistem LifeWear Loop. Di tahap ini, konsumen diberikan informasi lebih lanjut terkait bagaimana cara perawatan pakaian agar dapat bertahan lama, seperti mencuci dengan tepat yang disesuaikan dengan jenis kainnya, cara penyimpanan, dan sebagainya. Informasi sederhana ini dapat diketahui melalui label digital, aplikasi dan lainnya. Adanya cara tersebut, konsumen dapat diingatkan bahwa penggunaan pakaian mempunyai dampak jangka panjang terhadap kesejahteraan lingkungan. 


Strategi implementasi Uniqlo

Untuk melanjutkan program “Uniqlo LifeWear Loop” diperlukan strategi implementasi yang jelas. Strategi ini dirancang untuk memastikan bahwa tujuan dalam rangka memperpanjang umur pakaian dapat terlaksana dalam praktik kehidupan sehari-hari, baik oleh brand maupun konsumen sebagai pengguna pakaian. Maka dari itu, strategi implementasi “Uniqlo LifeWear Loop” dibuat dengan memperhatikan beberapa aspek diantaranya sebagai berikut


Terdapat target audiens dari program “Uniqlo LifeWear Loop” yakni remaja hingga dewasa muda dengan rentang usia 18-30 tahun, khususnya mahasiswa dan pekerja muda. Target audiens tersebut dipilih karena memiliki tingkat konsumsi fashion yang tinggi dan sangat berperan besar dalam membentuk tren fashion dan budaya konsumsi. Selain itu, audiens tersebut memiliki pengetahuan yang luas terkait isu lingkungan, akan tetapi masih sering terikat pada fast fashion


Terdapat kegiatan utama yang dilakukan dari program ini diantaranya yaitu, menyediakan layanan perbaikan dan perawatan pakaian. Adanya layanan ini bertujuan untuk mendorong konsumen memperbaiki pakaian yang rusak (ringan) daripada membeli pakaian baru. Terdapat juga layanan sewa pakaian khususnya pada pakaian yang digunakan pada musim dingin ataupun pakaian formal tertentu. Layanan ini bertujuan untuk mendorong konsumen menggunakan pakaian sesuai kebutuhan dan tidak membeli pakaian yang digunakan hanya sekali atau dua kali pakai. Selain itu terdapat layanan tukar pakai dan penggunaan ulang, yang mana kegiatan ini menukar pakaian lama yang masih layak pakai agar dapat digunakan kembali, sedangkan pakaian yang sudah tidak layak pakai akan di daur ulang. 


Dari beberapa kegiatan atau layanan yang dilakukan dari program “Uniqlo LifeWear Loop” disampaikan melalui media digital seperti Instagram dan Tiktok. Media ini digunakan karena disesuaikan dengan target audiensnya yakni remaja hingga dewasa muda yang cukup aktif dalam media sosial tersebut. Dengan menggunakan kedua media digital ini dapat disampaikan melalui konten visual seperti video pendek, infografis, yang berisi tentang bagaimana cara merawat, memperbaiki, dan penggunaan pakaian dalam jangka panjang. Konten tersebut dibuat dengan bahasa yang ringan dan sederhana sehingga mudah untuk dipahami. Selain itu, terdapat juga media luring yakni dalam proses penyampaian dilakukan secara tatap muka atau secara langsung. Media ini digunakan untuk informasi terkait penggunaan pakaian dalam jangka panjang, yang mana informasinya disampaikan melalui poster edukatif dan label khusus yang terdapat pada produk. Maka dari itu, melalui kombinasi media tersebut, adanya program “Uniqlo LifeWear Loop” tidak hanya bertujuan untuk kampanye pemasaran, tetapi juga dapat berkembang menjadi praktik sosial yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Tak hanya itu, program ini mengharapkan terjadinya perubahan perilaku konsumsi secara bertahap dan memungkinkan masyarakat untuk dapat terlibat aktif secara langsung dalam upaya keberlanjutan. 


Refleksi

Adanya program inisiatif “Uniqlo LifeWear Loop” dapat menjadi upaya dalam mengatasi isu lingkungan yang muncul dari budaya konsumsi berlebihan dalam industri fashion. Dalam perspektif ahli sosiologi Jean Baudrillard menjelaskan bahwa permasalahan ini tidak hanya berkaitan dengan proses produksi, melainkan juga dengan cara masyarakat memaknai pakaian atau fashion sebagai simbol identitas dan gaya hidup. Dengan konsumsi berbasis pda simbol dapat mendorong adanya siklus membeli dan membuang yang dapat berdampak pada peningkatan limbah tekstil. Oleh karena itu, melalui program ini, diharapkan mampu mengubah pola konsumsi masyarakat dengan menempatkan pakaian sebagai produksi jangka panjang. 




Daftar Pustaka

Baudrillard, J.P. (1970). La Societe de Consommation


Loahandi,A. (2025, Desember 25). Di Balik Kampanye Hijau Uniqlo: Benarkah Berkelanjutan atau Hanya Greenwashing. Retrieved Desember 18, 2025, from Di Balik Kampanye Hijau Uniqlo: Benarkah Berkelanjutan atau Hanya Greenwashing? - GoodStats


Pristiandaru,D. (2023, Oktober 2023). "Greenwashing": Pengertian, Sejarah, dan Ciri-cirinya. Retrieved Desember 18, 2025, from "Greenwashing": Pengertian, Sejarah, dan Ciri-cirinya



Comments


Top Stories

  • Instagram
  • Facebook
  • Twitter

© 2023 by Sosiologi Fashion. All rights reserved. Powered by NFashionews

bottom of page