Pakai Baju, Membawa Pesan Sosial "Fashion for a Social Cause melalui Du Anyam"
- Cultural Threads
- Dec 20, 2025
- 2 min read

Fashion for a social cause adalah konsep fashion yang tidak hanya mengejar tren dan keuntungan, tetapi juga membawa tujuan sosial. Dalam konsep ini, pakaian atau produk fashion digunakan sebagai alat untuk membantu masyarakat, menyuarakan isu sosial, dan menciptakan dampak positif. Fashion tidak lagi sekadar soal penampilan, melainkan juga soal nilai, kepedulian, dan tanggung jawab sosial. Salah satu contoh nyata fashion for a social cause di Indonesia adalah Du Anyam. Du Anyam bekerja sama dengan perempuan pengrajin di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk memproduksi berbagai produk fashion dan kerajinan berbahan anyaman. Melalui kolaborasi ini, Du Anyam membantu membuka akses ekonomi bagi perempuan desa yang sebelumnya memiliki keterbatasan kesempatan kerja. Produk yang dihasilkan tidak hanya bernilai estetika, tetapi juga membawa cerita tentang pemberdayaan dan keadilan sosial.
Dalam perspektif sosiologi, praktik Du Anyam dapat dikaitkan dengan teori Karl Marx. Marx menjelaskan bahwa dalam sistem kapitalisme, tenaga kerja sering kali dieksploitasi demi keuntungan pemilik modal. Pekerja berada pada posisi lemah dan tidak memiliki kontrol atas hasil produksinya. Du Anyam mencoba memutus pola ini dengan memberikan upah yang lebih adil, kondisi kerja yang manusiawi, dan pengakuan terhadap peran pengrajin sebagai subjek produksi, bukan sekadar tenaga kerja murah. Dengan begitu, fashion menjadi sarana untuk mengurangi ketimpangan ekonomi, meskipun tetap berada dalam sistem pasar.
Namun, dari kacamata Marx, Du Anyam tetap beroperasi dalam sistem kapitalisme. Produk-produk Du Anyam dijual ke pasar yang lebih luas, termasuk konsumen kelas menengah ke atas. Nilai sosial seperti pemberdayaan perempuan dan pelestarian budaya menjadi bagian dari nilai jual produk. Ini menunjukkan adanya proses komodifikasi, yaitu ketika nilai sosial diubah menjadi komoditas. Meskipun demikian, perbedaannya terletak pada dampak nyata yang diterima oleh pengrajin, bukan hanya pada citra brand. Selain Marx, praktik Du Anyam juga bisa dilihat melalui teori Pierre Bourdieu tentang modal sosial dan modal budaya. Pengrajin perempuan di NTT memiliki modal budaya berupa keterampilan menganyam yang diwariskan secara turun-temurun. Du Anyam membantu mengubah modal budaya ini menjadi modal ekonomi dengan menghubungkannya ke pasar modern. Di sisi lain, konsumen memperoleh modal simbolik ketika menggunakan produk Du Anyam, karena produk tersebut mencerminkan kepedulian sosial dan identitas etis.

Fashion for a social cause seperti yang dilakukan Du Anyam menunjukkan bahwa fashion bisa menjadi alat perubahan sosial jika dijalankan secara konsisten. Fashion tidak hanya mengambil inspirasi dari budaya lokal, tetapi juga memberi manfaat kembali kepada komunitas yang terlibat. Hal ini berbeda dengan brand yang hanya memakai isu sosial sebagai cerita pemasaran tanpa dampak nyata.
Kesimpulan :
Du Anyam menunjukkan bahwa fashion for a social cause dapat menjadi praktik yang bermakna ketika fokus pada pemberdayaan masyarakat dan keadilan sosial. Dalam perspektif Marx, Du Anyam memang masih berada dalam sistem kapitalisme, tetapi berusaha mengurangi ketimpangan melalui praktik yang lebih adil. Sementara itu, dari sudut pandang Bourdieu, Du Anyam berhasil menghubungkan modal budaya pengrajin dengan pasar modern. Dengan demikian, fashion tidak hanya menjadi produk konsumsi, tetapi juga sarana membawa pesan sosial dan perubahan nyata.
Sumber :









Comments