Kelas Sosial Bisa Dibeli? Apakah Iya?
- Cultural Threads
- Oct 1, 2025
- 3 min read
Updated: Oct 19, 2025

Perry adalah karyawan di salah satu perusahaan terkenal, sering berinteraksi dengan managernya, Cherry. Perry senang melihat gaya pakaian Cherry yang elegan dan mencoba untuk mengikutinya. Namun, apa yang didapatkan Perry? dia malah ditertawakan dan diolok-olok akibat pakaiannya yang tidak sesuai dengan status dia yang hanya sebagai karyawan. Perry heran kenapa dia tidak bisa elegan seperti atasannya, meskipun sudah mengikuti gaya berpakaiannya dengan sama persis.
Ini menunjukkan pakaian tidak bisa membeli kelas sosial. Fashion tidak hanya sekedar tentang pakaian, melainkan sebagai bentuk kontrol sosial. Ketika kita melihat seseorang memakai pakaian yang modelnya aneh, ribet; kita pasti langsung tahu bahwa dia adalah seorang atasan. Umumnya, atasan tidak perlu beraktivitas secara berlebihan, sehingga senang memakai model pakaian yang unik dan sedikit “menyulitkan”.
Fashion Sebagai Kontrol : Representasi Kelas
Sejak dahulu, masyarakat kelas bawah selalu berusaha meningkatkan status sosialnya dengan meniru gaya hidup masyarakat kelas elit. Mereka rela mengeluarkan uang dalam jumlah banyak untuk masuk ke dalam lingkaran kelas atas. Ada satu pernyataan yang populer saat ini “uang tidak bisa beli kelas”. Pernyataan ini benar adanya. Di realitas, kita dapat melihat sendiri bagaimana masyarakat kelas bawah melakukan segala cara agar dapat berteman dengan masyarakat kelas atas. Salah satunya dalam hal berpakaian. Walaupun, pakaian yang dipakai sudah sama persis, kita sebagai orang awam juga langsung dapat menilai mana yang berasal dari kelas bawah dan kelas atas.
Ini menunjukkan bahwa pakaian dapat disebut sebagai fashion tergantung pada status sosial pemiliknya. Jadi, ketika masyarakat dengan status sosial rendah memakai pakaian yang bermerek sekalipun, akan dipandang sebelah mata dan dianggap pakaian yang dikenakan bukanlah fashion. Berbeda dengan kelas atas, walaupun hanya memakai pakaian simple, namun tetap dipuji dan dipandang fashionable. Seberapa mahal dan keren pakaian yang kita pakai, namun apabila bukan berasal dari status sosial yang tinggi, sama saja bohong karena akan dianggap sebagai barang palsu. Tidak adil memang, tapi begitulah realitas yang sudah terjadi dalam waktu yang lama.
Fashion : Simbol di Lingkungan Kerja
Fashion menjadi simbol pembeda kedudukan di lingkungan kerja. Seringkali, atasan berpakaian menarik, mencolok perhatian. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Inilah yang membuat adanya pembeda antara atasan dengan karyawan. Dengan memperhatikan gaya berpakaian, kita bisa menunjukkan power yang dimiliki. Bukan untuk mengintimidasi, melainkan untuk menampilkan identitas kita. Dihubungkan dengan sosiologi klasik, bahwa fashion adalah ajang unjuk diri, yang dilakukan dengan konsumsi pakaian yang menonjol, mencolok. Semakin mencolok pakaian yang dikenakan, maka semakin menandakan kedudukan kita di lingkungan kerja. Dalam kata lain, dominasi bisa dilegitimasi dengan pakaian.
Ketika gaya berpakaian atasan dan karyawan sama, tentunya tidak ada dominasi yang ditonjolkan, sehingga memungkinkan tidak adanya rasa hormat kepada atasan. Ketika seorang atasan memakai pakaian yang menarik, bermerek; secara tidak langsung, karyawan akan merasa segan. Inilah yang ditekankan dalam pandangan sosiologi klasik terhadap fashion, bahwa fashion adalah mekanisme pembedaan kelas sosial, khususnya dalam lingkup kerja. Dalam hal ini, fashion berperan sebagai kontrol sosial, yang menjadi bentuk legitimasi dominasi yang dimiliki oleh atasan.
Elite : Trendsetter Fashion
Relasi antara kelas elit dan kelas bawah hanya seputar meniru. Tidak ada hubungan yang intens, seolah-olah ada pembatas yang memisahkan kedua kelas tersebut. Namun, kelas atas tidak akan pernah bisa ditiru. Tren fashion mulanya dibentuk dari kelas elit dan seiring waktu berjalan, masyarakat meniru tren yang ada dengan harapan dapat memasuki lingkungan elit sosial. Namun, yang tidak diketahui adalah kelas elit akan mencari tren baru ketika melihat tren sebelumnya sudah populer dan mainstream. Kelas elit tidak menyukai adanya kesamaan dengan masyarakat lainnya, khususnya dengan kelas sosial yang rendah.
Maka dari itu, siklus fashion akan selalu berubah-ubah. Tapi, seperti yang kita tahu adanya perubahan tren fashion ini bisa memperdalam kesenjangan sosial. Masyarakat kelas bawah akan merasa rendah karena kelas elit yang tidak ingin memiliki kesamaan. Tidak bermaksud merendahkan, namun kelas elit hanya ingin menunjukkan dominasinya dengan tidak memakai pakaian yang sama dengan masyarakat lainnya. Meskipun adanya kesamaan, juga tidak akan memiliki pengaruh yang signifikan diantara kelas sosial keduanya. Hal tersebut sesuai dengan teori dari Herbert Spencer bahwa status sosial seseorang yang membuat sebuah pakaian menjadi fashion. Jadi, walaupun kelas bawah mengimitasi fashion kelas elit, pakaian yang mereka kenakan belum tentu dapat disebut fashion.
Tren Konsumsi yang Berlebihan
Tren fashion yang selalu berubah pastinya memicu konsumsi yang berlebihan. Tren konsumsi yang berlebihan ini bisa saja berpengaruh pada kehidupan kita, khususnya dalam aspek lingkungan. Kita harus memiliki kesadaran diri. Jangan hanya karena ingin meniru kelas elit, kita menghamburkan uang dan menghancurkan lingkungan. Sebelum mengikuti tren fashion, kita harus mempertimbangkan dari segala sisi, karena tidak semua tren fashion dapat kita ikuti. Kita sudah mengetahui bahwa fashion itu bukan dilihat dari pakaian, tapi dari status pemiliknya. Maka tidak ada untungnya kita mengkonsumsi secara berlebihan. Perlu pertimbangan yang matang! Jangan hanya terfokus untuk selalu mengikuti tren yang ada.









Comments