top of page

Fashion For Social Cause: Is It True That Fast Fashion Causes Environmental Degradation? Urgently Need Movement For Better Life!

  • Writer: Cultural Threads
    Cultural Threads
  • Dec 19, 2025
  • 7 min read

Beberapa waktu lalu, industri fashion sempat menjadi perbincangan publik. Bukan karena produk, melainkan karena kegiatan operasional mereka. Publik menilai bahwa industri fashion sangat tidak bertanggung jawab dengan apa yang telah mereka lakukan, yang mana menilai bahwa industri ini terlalu mementingkan keuntungan. Tidak mengherankan bahwa setiap bisnis pasti ingin mendapatkan keuntungan, namun juga perlu diperhatikan dampak apa yang diberikan bagi masyarakat maupun alam. Apabila dampak yang dihasilkan positif, maka masyarakat juga tidak mempermasalahkan apabila industri-industri sangat menekankan pada keuntungan. Realitanya, sudah menghasilkan dampak negatif, tetapi masih saja tidak mau bertanggung jawab dan hanya terus memikirkan keuntungan. Inilah yang dilakukan oleh industri fashion.


Lots of fashion waste that already harm our planet. Not just in one country, but all country are also affected by that (validnews.net)
Lots of fashion waste that already harm our planet. Not just in one country, but all country are also affected by that (validnews.net)

Prioritaskan Bisnis: Aksi Tidak Bertanggung Jawab Industri Fashion

Praktik tidak bertanggung jawab dari industri fashion ini menjadi sesuatu hal penting yang harus dibicarakan di zaman sekarang ini. Hal tersebut dikarenakan dampaknya sudah semakin merugikan lingkungan, yang mana menimbulkan berbagai polusi, penumpukan limbah. Apabila kita lihat secara mendalam, aksi tidak bertanggung jawab dalam industri fashion ini pasti tidak lain tidak bukan ada pengaruh dari fast fashion. Merek fast fashion sekarang ini sangat mendominasi karena memberikan penawaran yang sangat menarik sehingga masyarakat selalu tergoda untuk mengkonsumsinya. Masyarakat pastinya tergoda karena dengan harga yang sangat terjangkau, kita sudah bisa mendapatkan berbagai jenis model fashion yang mana mirip juga lagi dengan brand-brand fashion kelas atas. 


Saat ini, pola berpikir masyarakat sudah mulai berubah, yang mana sekarang mereka hanya mementingkan kebutuhan media sosial, kebutuhan konten. Hal ini menandakan bahwa masyarakat mengkonsumsi fashion bukan karena sisi fungsionalnya, tetapi karena nilai sosial yang melekat pada fashion. Hal ini yang kemudian dimanfaatkan oleh berbagai merek fast fashion, yang mana mereka selalu mengejar hingga melebihi target produksi; yang berarti mereka selalu menekan para pekerjanya untuk terus bekerja tanpa memperhatikan bagaimana kesejahteraannya. Selain itu, produksi yang berlebihan ini juga bisa merusak lingkungan karena pasti akan menyebabkan penumpukan limbah serta polusi juga baik di tanah, air, maupun udara. Maka dari itu, isu ini sangat perlu diperhatikan karena bukan hanya merugikan alam, melainkan juga kita sebagai masyarakat.


Transformasi Sosial: Fokus Untuk Validasi, Bukan Fungsi

Ternyata bukan hanya brand fast fashion saja yang tidak bertanggung jawab. Kita sebagai masyarakat juga seringkali tidak menyadari bahwa perilaku kita juga sangat merugikan alam. Umumnya, ketika kondisi alam sudah mulai memburuk seperti saat ini, kita hanya selalu menyalahkan industri fashion, tanpa merefleksi diri apakah kita juga ikut berkontribusi dalam kerusakan ini. Masyarakat saat ini ketika adanya tren fashion yang sedang populer, maka mereka akan langsung mengikutinya tanpa mempertimbangkan kegunaannya. Hal tersebut dikarenakan adanya anggapan bahwa untuk membeli pakaian dari berbagai merek juga menggunakan uang mereka sendiri, sehingga tidak masalah apabila pada akhirnya pakaian yang dibeli tersebut akan terpakai atau justru dibuang. Pemikiran tidak bijak inilah yang bisa semakin merusak alam. 


Dalam pandangan sosiologis, menurut Bauman (2007), sebenarnya praktik konsumsi fashion masyarakat yang dapat disebut konsumtif ini adalah bentuk ketidakpuasan terhadap diri mereka sendiri, yang mana mereka selalu menginginkan untuk mengkonsumsi sesuatu yang baru. Hal ini sangat sesuai dengan realita masyarakat saat ini, yang mana mereka terlalu terlena akan nilai sosial. Maka dari itu, ketika ada tren baru, mereka merasa harus selalu mengikutinya agar dapat diterima secara sosial. Faktanya, tidak semuanya tergantung pada penerimaan sosial. Apa gunanya bagi masyarakat apabila mereka hanya mementingkan pandangan orang tetapi merasa tidak nyaman dengan apa yang dipakai. Praktik konsumtif fashion masyarakat bukan didasarkan karena mereka melihat kegunaanya, melainkan karena mereka memerlukannya untuk diunggah di media sosial untuk memenuhi standar sosial yang sangat tidak logis itu. Hal tersebut terbukti dari banyaknya masyarakat yang mengunggah konten fit check ataupun OOTD (Outfit of The Day). 


Adapun tokoh sosiologi, Colin Campbell (1987), yang menyatakan bahwa fashion berperan memupuk konsumerisme dengan selalu menawarkan kebaruan. Hal ini dapat kita lihat dari berbagai brand fast fashion, yang mana mereka selalu memproduksi fashion yang baru, yang akhirnya menjadi suatu tren. Ketika sudah menjadi tren, masyarakat pun beramai-ramai mengkonsumsinya untuk memenuhi kesenangan diri mereka. Di zaman penuh dengan perkembangan teknologi ini, kesenangan masyarakat bukan lagi kesenangan fisik, melainkan adalah kesenangan semu; yaitu mereka bisa merasa sangat senang hanya dengan mengikuti, membeli sesuatu yang sedang populer dan diunggah di media sosial miliknya. Hal tersebut dikarenakan mereka merasa lebih nyaman, percaya diri, dihargai ketika selalu mengikuti perkembangan. Perubahan pola pemikiran, perilaku masyarakat inilah yang seakan-akan mendukung praktik tidak bertanggung jawab dari industri fashion, dengan spesifik mengarah pada brand fast fashion. 


Zara: Fast Fashion Menjadi Titik Mula Kerusakan Alam

Salah satu brand fast fashion yang secara terus-menerus meluncurkan produk baru adalah Zara. Apalagi dengan harga yang sangat terjangkau, masyarakat beramai-ramai mengkonsumsi produk fashion dari brand ini. Zara, brand fast fashion asal Spanyol yang sudah terkenal hingga mancanegara. Hal tersebut terbukti dari banyaknya offline store Zara di berbagai negara, yang kabarnya sudah tersebar di 88 negara. Tidak mengherankan karena brand fast fashion ini memang menawarkan produk yang sangat sesuai dengan tren dan juga dijual dengan harga yang cukup murah. Walaupun terdapat berbagai brand fast fashion yang bermunculan, namun Zara masih tetap eksis hingga saat ini sejak 40 tahun lalu ketika brand fast fashion ini didirikan. Dikarenakan zaman sekarang semuanya serba teknologi, maka Zara juga menyediakan website untuk memudahkan masyarakat mengetahui produk baru serta melakukan pembelian. 


Zara, one of fast fashion brand that really have global popularitu. Everyone certainly know this brand, because this brand really serves everything that people wants (listogia.com)
Zara, one of fast fashion brand that really have global popularitu. Everyone certainly know this brand, because this brand really serves everything that people wants (listogia.com)

Strategi pemasaran Zara sebagai suatu brand fast fashion ini sangatlah mampu menarik perhatian masyarakat. Penawaran Zara akan relevansi produknya dengan tren, harga yang terjangkau, serta kecepatan seringkali mengaburkan praktik konsumsi bijak masyarakat. Masyarakat seakan-akan dihipnotis oleh Zara untuk terus berbelanja. Masyarakat menjadi lupa bahwa aksi ini bisa saja merugikan diri mereka dan juga alam, karena pastinya mereka menjadi boros, tidak bisa menabung, serta ketika ada sesuatu yang mendesak, mereka tidak memiliki cadangan dana. Bisa juga merugikan alam karena pastinya tidak semua fashion yang mereka beli itu akan terpakai, yang mana biasanya pakaian yang dibeli menyesuaikan dengan tren itu bukan fashion yang bisa dipakai dalam kegiatan sehari-hari. Maka dari itu, ujung-ujungnya fashion tersebut akan ditumpuk, dilupakan, hingga dibuang dengan begitu saja. Apalagi kalau produk dari brand fast fashion itu umumnya bukan menggunakan material yang berkualitas tinggi, biasanya material yang digunakan adalah material yang sulit diurai sehingga ketika dibuang dengan begitu saja, tanpa mengetahui cara yang tepat, maka akan membuat produk tersebut menjadi limbah. 


Sustainable Environment: Implementasi Rancangan Strategi

Untuk mengatasi isu tentang lingkungan yang diakibatkan oleh brand fast fashion, yang salah satunya adalah Zara; maka diperlukan suatu strategi yang dapat mendorong tercapainya kehidupan berkelanjutan. 

  1. Merancang kampanye “StandsWithZara” yang berisikan program untuk  mendorong masyarakat berkontribusi mendukung ekosistem yang berkelanjutan. Program dilakukan dengan mengajak masyarakat untuk menyumbangkan pakaian yang tidak terpakai (baik karena sudah tidak sesuai dengan tren maupun adanya kerusakan yang dinilai menurunkan visualisasi produk). Sumbangan tersebut yang menjadi material bagi Zara untuk melakukan upcycling system (sistem mendaur ulang produk lama menjadi produk baru). Untuk mendorong intensi kontribusi masyarakat, Zara akan memberikan sebuah bentuk apresiasi kepada masyarakat yang telah menyumbangkan berupa point member ataupun voucher berbelanja di official store. Dalam hal ini, Zara  dapat menyeimbangkan kesejahteraan lingkungan sekaligus mendukung operasional bisnis. Tentunya Zara akan mendapatkan keuntungan tidak hanya dalam nilai rupiah, melainkan juga peningkatan citra. Adanya perancangan kampanye tersebut dapat menjadi upaya mengatasi masalah lingkungan yang sering dikaitkan dengan Zara dan brand fast fashion lainnya. Dengan kampanye ini, brand dapat menunjukkan tanggung jawabnya untuk mensejahterakan lingkungan sebagai hasil dari praktik bisnisnya yang menurunkan kualitas lingkungan. 

  2. Merancang event runaway sebagai bentuk mempersuasi masyarakat untuk beralih ke konsumsi fashion yang berkelanjutan, bukan hanya mengikuti tren. Runaway dapat dijadikan ajang untuk meluncurkan hasil produk dari kampanye “StandsWithZara” yang telah dilakukan untuk memperlihatkan kepada masyarakat bahwa tidak selamanya produk hasil daur ulang tidak memenuhi standar visualisasi yang menarik. Ketika masyarakat dilibatkan untuk menilai hasil produk, kemungkinan akan mempengaruhi persepsi dan perilaku masyarakat; mendorong masyarakat untuk memiliki kesadaran menjaga lingkungan karena kerusakan lingkungan akibat industri fashion bukan hanya didasarkan pada praktik tidak tanggung jawab dari perusahaan, melainkan juga dari perilaku masyarakat. Dengan event runaway, brand dapat menjadi pencipta tren baru di industri fashion bahwa fashion tidak harus selalu berubah sewaktu-waktu.

  3. Kolaborasi dengan influencer, yang mana Zara dapat bekerja sama dengan salah satu influencer yang bergerak di bidang fashion. Dapat kita lihat di media sosial bahwa saat ini sangat banyak influencer yang memproduksi konten seputaran fashion. Kolaborasi ini dapat dilakukan sebagai bentuk mempromosikan produk hasil kampanye “StandsWithZara” ke publik secara luas. Apabila hanya memperlihatkan melalui runaway, tentunya tidak semua orang akan mengetahui karena biasanya runaway memiliki kapasitas audiensnya. Maka dari itu, perlu dilakukan dengan kolaborasi influencer. Influencer saat ini selalu mereview produk fast fashion, yang seringkali menarik masyarakat untuk ikut membeli apa yang influencer tersebut pakai. Oleh karena itu, brand fast fashion seperti Zara bisa memanfaatkan koneksi influencer tersebut untuk mempromosikan produk hasil daur ulang dari kampanye yang dilakukan. Sehingga, Zara maupun brand fast fashion lainnya bisa sekaligus mendapatkan keuntungan dan juga bertanggung jawab dalam melestarikan alam. 


Masyarakat yang paling sering mengikuti tren fashion sehingga menjadi konsumtif adalah anak muda. Hal tersebut dikarenakan mereka masih memiliki ego yang tinggi, yaitu ingin terus memenuhi standar penilaian orang lain terhadap dirinya. Ini sesuai dengan pandangan dari tokoh sosiologis, Anthony Giddens (1991) bahwa adanya identitas diri yang ingin dibentuk oleh masyarakat melalui fashion. Inilah yang dialami oleh anak muda, yang mana mereka seolah-olah ingin membentuk diri yang baru, yang sesuai dengan standar sosial karena adanya ketakutan bahwa mereka tidak akan diterima, dihargai apabila tidak mampu memenuhi standar tersebut. Maka dari itu, mereka selalu mengikuti tren fashion namun bukan karena mereka memang menyukainya, melainkan karena nilai sosial dari tren tersebut. Mereka percaya bahwa ketika fashion mereka sudah sesuai dengan tren, maka mereka bisa mendapatkan teman yang banyak, validasi sosial. Oleh karena itu, strategi solutif untuk mewujudkan kehidupan yang berkelanjutan tersebut bukan hanya menargetkan brand fast fashion, melainkan juga kepada masyarakat khususnya anak muda agar mereka lebih mengetahui bagaimana proses produksi dan konsumsi fashion yang kritis serta bertanggung jawab. 


Dengan adanya strategi ini, sangat diharapkan bahwa kehidupan yang lebih baik di masa sekarang maupun masa depan bisa tercapai. Selain itu, juga diharapkan brand fast fashion bisa memiliki kesadaran yang tinggi untuk tidak hanya memikirkan kepentingan bisnis mereka sendiri, melainkan juga harus memperhatikan sekitar karena di bumi ini, bukan hanya mereka saja yang memiliki kepentingan, melainkan masyarakat dan alam juga. Perlu diingat juga bahwa kita sebagai masyarakat harus bisa lebih kritis dalam menentukan keputusan pembelian kita. Sebelum membeli, pertimbangkan apakah kita benar-benar memerlukannya dan apakah bisa dipakai dalam kegiatan sehari-hari, atau ini hanyalah keinginan semu karena ingin mendapatkan validasi.



Referensi:

  1. Bauman, Z. (2007). Consuming Life. Polity Press

  2. Campbell, C. (1987). The Romantic Ethic and The Spirit of Modern Consumerism. Oxford.

  3. Giddens, A. (1991). Modernity and Self Identity: Self and Society in the Late Modern Age. Stanford University Press.

Comments


Top Stories

  • Instagram
  • Facebook
  • Twitter

© 2023 by Sosiologi Fashion. All rights reserved. Powered by NFashionews

bottom of page