“Dari Closet ke Feed: OOTD sebagai bahasa Identitas Gen Z”
- Cultural Threads
- Sep 23, 2025
- 3 min read
Updated: Oct 14, 2025

Sebelum melakukan aktivitasnya sehari-hari, Nana selalu mengecek media sosial terlebih dahulu. Ketika ia membuka media sosialnya, ia terkejut melihat teman-temannya yang selalu update dalam mengunggah foto di instagram. Teman-temannya selalu tampil modis dengan beragam pakaian yang unik, aesthetic, hingga vintage.
lalu, apa yang membuat gen Z selalu tampil modis? apakah hanya ingin terlihat keren — atau mungkin mereka mulai menyukai dan mengikuti tren fashion?
Cara gen Z: menjadi generasi modis
Generasi Z atau sering dijuluki sebagai generasi paling ekspresif dan aktif. Gen Z ini lahir kisaran tahun 1990 an - 2012. Berbeda dengan gen Y (milenial), gen Z ini tumbuh di era digital. Era digital ini menjadi salah satu bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan mereka sehari-hari. Media sosial tersebut meliputi instagram, tiktok, twitter, youtube dan lain sebagainya. Media tersebut tidak hanya digunakan sebagai media hiburan, melainkan sebagai media mereka untuk mengekspresikan identitas dirinya.
Salah satu cara mereka dalam menampilkan identitas dirinya yaitu dengan membuat konten OOTD (outfit of the day). Istilah OOTD ini dipahami sebagai bentuk mereka dalam menunjukan kebiasaan seperti memamerkan, memotret, atau membagikan pakaian yang sedang mereka gunakan pada hari itu.
OOTD sebagai cermin identitas visual

Fashion merupakan salah satu bahasa yang tidak terucapkan atau dipandang sebagai sebuah simbol. Ketika seseorang memilih pakaian, sebenarnya mereka sedang menyusun sebuah kalimat untuk dirinya. Bagi gen Z, OOTD menjadi sarana visual yang penting bahkan menjadi suatu hal yang wajib dilakukan setiap hari untuk menampilkan siapa diri mereka. Seseorang yang mengupload OOTD dengan gaya streetwear — dengan memakai kaos oversize, sneakers, serta beberapa aksesoris seperti topi, kacamata. Mereka tidak hanya memperlihatkan pakaian yang sedang digunakan, namun juga menunjukan bahwa mereka sedang membagikan pesan atau menyampaikan siapa identitas dirinya.

Disisi lain, terdapat juga mahasiswa yang menggunakan pakaian dengan gaya vintage look yang didapatkan dari hasil thrifting. Hal ini menunjukan bahwa mereka peduli dengan lingkungan serta kreatif, selain itu juga untuk menghindari budaya konsumerisme. Dalam sosiologi hal ini merupakan bentuk komunikasi simbolik, dimana pakaian menjadi tanda atau simbol yang dimaknai oleh orang lain. Selain itu gen Z mulai menyadari bahwa pakaian yang mereka gunakan akan dilihat oleh orang lain baik melalui media sosial maupun secara langsung, sehingga setiap OOTD yang mereka gunakan tidak hanya bersifat netral melainkan menggambarkan jati diri mereka.
Media sosial menjadi sarana modern : identitas dipentaskan
Identitas gen Z tidak hanya dibangun dalam dunia nyata, melainkan juga dapat terbentuk secara virtual baik dalam game maupun media sosial. Hal ini dapat terlihat mulai dari fashion digital seperti avatar yang merupakan pakaian virtual dalam game dapat menjadi bagian dari cara mereka menunjukan identitasnya. Dalam media sosial mereka bebas dalam menampilkan gaya berpakaian sesuai dengan keinginan mereka. Bahkan di setiap postingan OOTD yang mereka upload merupakan hasil dari apa yang sudah mereka siapkan. Mulai dari latar belakang foto, hingga mengatur tata letak feed agar terlihat aesthetic.
Lebih dari sekedar gaya : tren fashion, menciptakan identitas kolektif
Meskipun gen Z ingin selalu tampil dengan gaya yang unik dan kreatif, faktanya mereka tidak terlepas dari tren. Gen Z selalu membentuk identitas kolektif melalui gaya yang sedang populer, seperti cewe kue, tomboy, atau soft boy. Dengan menggunakan gaya yang sama, mereka merasa telah menjadi bagian dari komunitas tertentu.
Hal ini menunjukan bahwa fashion tidak hanya membentuk identitas individu, namun juga identitas kelompok. Identitas individu tidak dapat terbentuk secara murni, melainkan selalu dinegosiasikan dengan kelompok sosial yang lebih besar. Tak hanya itu gen Z menampilkan fashion untuk membuat dirinya merasa diterima, sekaligus membedakan diri dari kelompok lain yang memiliki perbedaan selera.
Tidak hanya sekedar OOTD : membentuk etika, identitas dan aktivisme
Tahukah kalian apa yang menarik dari OOTD ? OOTD tidak hanya untuk tampil kece melainkan dapat dijadikan wadah aktivisme. Gen Z sebagai generasi yang ekspresif dan aktif memiliki kesadaran sosial yang sangat tinggi. Mereka menunjukan outfit yang ramah lingkungan untuk menyampaikan pesan moral. Contohnya, menggunakan pakaian hasil thrifting sebagai bentuk kritik terhadap industri fast fashion yang merusak lingkungan.
OOTD bukan hanya sekedar tren narsis — melainkan dapat menjadi media ekspresi sosial dan politik, karena melalui fashion, gen Z atau kalangan anak muda dapat menunjukan nilai, sikap,atau kritik terhadap budaya konsumtif.
Ayo! saatnya menjadikan OOTD kita lebih bermakna! mulailah dari memilih pakaian yang bukan sekedar nyaman dipakai, namun juga dapat mencerminkan siapa diri kita dan apa pesan yang ingin kita sampaikan melalui fashion (OOTD) tersebut.









Comments