Warm & Stylish: Koleksi UNIQLO U Fall/Winter 2023 Hadir untuk Menemani Musim Dinginmu”
- Cultural Threads
- Oct 8, 2025
- 4 min read
Updated: Oct 14, 2025

Merek mode Uniqlo 2023 meluncurkan fashion dengan menggunakan gaya busana nuansa casual minimalis yang cocok digunakan saat musim dingin maupun musim gugur. Gambar tersebut menampilkan dua orang dengan model pakaian yang berbeda namun sama-sama mencerminkan ciri khas desain minimalis khas Uniqlo. Dalam gambar diatas menampilkan koleksi Uniqlo yang tetap menunjukan perpaduan yang sempurna antara kenyamanan, praktis, serta keanggunan dalam konsep lifewear.
Jika dilihat berdasarkan gambar tersebut gaya busana yang ditampilkan terdiri dari berbagai item yang khas digunakan saat musim gugur maupun musim dingin, seperti penggunaan long coat, puffer jacket dan trench coat dengan menggunakan warna-warna netral seperti abu-abu, coklat, dan hitam. Adanya kombinasi warna-warna pastel yang dapat memberi kesan elegan serta mudah dalam menyesuaikan dengan berbagai suasana. Untuk bagian dalam, para model seperti yang terlihat dalam gambar mengenakan hoodie, turtleneck, dan sweater berbahan lembut yang dapat menambah kehangatan namun tidak mengorbankan penampilan.
Selain itu penggunaan celana panjang yang longgar (oversize) ditambah dengan aksesoris seperti ransel, tas selempang, serta topi berbahan rajut turut melengkapi kesan casual serta fungsional dari keseluruhan outfit yang digunakan. Adapun target audiens berdasarkan koleksi tersebut menargetkan kepada pria dan wanita yang berasal dari kelas sosial atas dengan rentan usia 18-50 tahun yang tinggal dalam lingkungan urban. Biasanya orang-orang yang tinggal dalam lingkungan urban cenderung menggunakan pakaian yang simpel namun tetap ingin terlihat stylish dan mencerminkan kepribadian modern yang rapi.
Merek mode Uniqlo 2023 menjadi trend fashion bukan karena kepopuleran brand nya melainkan dibentuk oleh masyarakat itu sendiri. Hal ini relevan dengan pandangan Blumer (1969a) yang mengatakan bahwa fashion itu hasil dari proses seleksi kolektif, yang mana masyarakat bersama-sama menentukan gaya yang mereka anggap menarik, relevan dan layak untuk diikuti dari suatu waktu tertentu. Dalam perspektif ini, fashion tidak hadir semata-mata dari desainer ataupun industri, melainkan dari hasil proses sosial yang melibatkan kelompok dan individu yang saling mempengaruhi dalam menentukan sebuah trend. Selain itu, menurut Blumer fashion itu hasil dari kesepakatan sosial yang sifatnya dinamis. Hal ini terwujud ketika sekelompok individu dalam masyarakat secara bersama sama menyetujui, memilih, serta mengadopsi gaya tertentu yang dianggap sesuai dengan kebutuhan dan selera di zamannya. Berdasarkan gambar trend fashion Uniqlo diatas, memperlihatkan dua model dengan dua gaya berpakaian yang berbeda namun tetap berada dalam satu tema seperti dilihat dari kesederhanaan, kenyamanan, serta fungsionalitasnya. Ciri atau kekhasan tersebut sangat lekat dengan preferensi masyarakat modern, khususnya kalangan generasi muda urban yang menyukai kepraktisan serta gaya hidup yang dinamis. Selain itu, Blumer menekankan bahwa fashion selalu mencerminkan kondisi budaya dan sosial yang masyarakat buat.
Selain itu, fashion juga dijadikan sebagai pembeda antara kelas atas dan kelas bawah. Hal ini relevan dengan pandangan Georg Simmel (1858) yang menjelaskan bahwa fashion termasuk fenomena sosial yang berfungsi untuk differentiation (pembedaan) dan imitation (peniruan). Selain itu simmel berpendapat bahwa fashion termasuk dalam proses sosial yang terjadi karena adanya kemauan atau keinginan setiap individu untuk membedakan diri (differentiation) sekaligus menyesuaikan diri (imitation) dengan kelompok sosial tertentu. Dalam pembahasan ini, fashion bukan hanya sekedar pakaian, namun juga dijadikan sebagai identitas, simbol status, dan selera yang akan terus menerus mengalami perubahan (dinamis) mengikuti dinamika sosial dalam masyarakat.
Selain itu, adanya perbedaan gaya dalam fashion dapat menunjukan bahwa fashion tetap menjadi alat untuk membedakan kelas. Hal ini dapat terlihat dari kelas atas yang mana mereka akan menggunakan gaya tertentu untuk menandai posisi serta selera mereka, sedangkan kelas bawah akan cenderung meniru gaya kelas atas sebagai aspirasi sosial. Namun, ketika gaya tersebut menjadi umum digunakan atau diadopsi banyak orang, golongan kelas atas akan beralih atau terus membuat trend maupun gaya baru untuk menciptakan perbedaan. Dalam konteks Uniqlo, brand ini termasuk mass-market serta mudah diakses oleh semua kalangan masyarakat, namun semua produk yang dihasilkan tetap mampu memunculkan subtle distinction (pembedaan halus) baik dari segi kualitas bahan, gaya styling, serta adanya kesan “tasteful minimalism” yang saat ini menjadi simbol status sosial yang baru di kehidupan masyarakat modern.
Fashion pada gambar diatas memiliki makna sosial yang kuat, karena tidak hanya berfungsi sebagai gaya dalam berpakaian, melainkan juga dapat digunakan sebagai bentuk komunikasi sosial yang dapat mencerminkan identitas, kelas dan budaya dalam masyarakat modern. Melalui gaya busana dari Uniqlo dapat dilihat bagaimana fashion menjadi alat pembentuk identitas, dimana setiap individu yang menggunakannya tidak hanya menyampaikan siapa dirinya, namun juga nilai-nilai apa yang dianut seperti kepraktisan hidup masyarakat urban, dan kesetaraan gender. Kemudian berdasarkan pandangan kelas sosial dapat dikatakan menarik, karena mampu membawa model atau gaya minimalis yang dulunya hanya dimiliki oleh golongan kelas atas kini menjadi lebih affordable atau terjangkau bagi semua kalangan. Meskipun demikian, Uniqlo tetap membuat perbedaan dalam koleksi fashionnya, seperti kualitas bahan, warna, hal ini dapat menampilkan selera dan status sosial individu. Sehingga meskipun gaya fashion terlihat sederhana, namun pada kenyataannya tetap ada penanda kelas sosial dalam bentuk yang lebih modern. Selain itu, dapat juga dilihat dari sisi budaya, dimana fashion Uniqlo mencerminkan nilai globalisasi serta gaya hidup modern. Gaya yang ditunjukan bersifat universal, artinya dapat diterima di berbagai negara dan budaya karena mempunyai tampilan yang fleksibel. Hal ini menunjukan bahwa fashion dapat menjadi bahasa global dalam menyatukan perbedaan serta memperlihatkan identitas yang baru bagi masyarakat modern yang lebih terbuka dan dinamis.









Comments