top of page

Gebrakan Baru CORTIS, Grup Idol Asal Korea dalam Industri Fashion: Tidak Perlu Mahal Untuk Tampil Stylish!

  • Writer: Cultural Threads
    Cultural Threads
  • Dec 3, 2025
  • 5 min read

Saat ini, seperti yang kita ketahui bahwa industri fashion telah memberikan dampak yang besar bagi lingkungan. Bukan dalam hal positif, melainkan negatif yang mana menimbulkan penumpukan limbah. Hal tersebut dapat terjadi karena adanya proses produksi yang tidak bertanggung jawab dari industri fashion. Namun, bukan hanya dikarenakan oleh industri, melainkan juga oleh masyarakat yang kurang bijak dalam praktik konsumsi fashion. Umumnya, yang melakukan praktik konsumsi fashion yang tidak bijak adalah anak muda, khususnya gen Z dikarenakan adanya keinginan dalam diri mereka yang selalu tertarik untuk mengikuti tren. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan juga bahwa anak muda dapat memiliki kesadaran untuk mengkonsumsi fashion dengan bijak.


Pandangan Sosiologis: Konsumsi Fashion Berdasarkan Nilai Sosial, Bukan Fungsi

Dalam pandangan sosiologis, praktik konsumsi yang tidak bijak ini dikarenakan tren fashion yang selalu berubah dalam jangka waktu yang singkat sehingga mendorong masyarakat khususnya anak muda untuk selalu mengikuti agar dapat dipandang gaul. Dengan mengikuti tren, anak muda lebih memiliki rasa percaya diri karena percaya akan diterima dalam sistem sosial. Hal ini yang kemudian membuat mereka tidak lagi mementingkan sisi fungsional dari fashion, melainkan lebih ke nilai sosialnya. Tanpa disadari, perilaku inilah yang mendorong terjadinya kerusakan lingkungan karena ketika praktik konsumsi fashion tidak didasarkan dengan melihat fungsinya, maka umumnya pakaian tersebut akan jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Adapun kemungkinan, pakaian tersebut hanya dipakai sekali dan kemudian disimpan begitu saja karena tidak nyaman, baik karena material maupun cara memakainya yang rumit. 


Fashion: Eksplorasi, Ekspresi Diri, Penerimaan Sosial

Dengan kata lain, anak muda saat ini sedang mencari jati diri dengan mengikuti seluruh tren fashion yang sedang populer. Bagi mereka, dengan mengikuti tren, dapat mendorong peningkatan kepercayaan diri karena secara tidak langsung mereka dapat mengeksplorasi dan mengekspresikan kepribadian mereka dengan mengetahui fashion yang sesuai untuk menunjukkan keaslian dirinya. Selain itu, dengan mengikuti tren, juga membuat anak muda merasa memiliki suatu kelompok, dan ini juga yang mendorong penerimaan bagi diri mereka sendiri, yang mana mereka tidak lagi harus merasa terasingkan.


Seringkali, anak muda merasa bahwa mereka tidak diterima apabila tidak update dengan tren fashion. Hal ini dikarenakan mereka sendiri juga merasa tidak nyaman dengan dirinya, sehingga selalu ada keinginan untuk selalu berubah dengan mengikuti tren. Oleh karena itu, mereka selalu berusaha mengikuti tren–bagi mereka tidak perlu harus mengkonsumsi fashion dengan harga dan merek yang mahal, yang penting adalah fashion tersebut masih tetap relevan dengan tren. Dalam hal ini, anak muda tidak lagi memperhatikan fashion dari harga, fungsi; melainkan lebih ke pandangan orang lain terhadap mereka berdasarkan gaya pakaian karena saat ini, penilaian seseorang terhadap diri kita secara keseluruhan berawal dari bagaimana penampilan kita.


Sustainability: Inovasi dalam Fashion Idol Korea


Korean Idol Group, CORTIS, who makes a new innovative in K-pop Fashion Industry by implemented Sustainability Fashion Concept (Style Republic)
Korean Idol Group, CORTIS, who makes a new innovative in K-pop Fashion Industry by implemented Sustainability Fashion Concept (Style Republic)

Tidak semua anak muda memiliki perilaku yang selalu mengikuti tren fashion dan memiliki sifat yang konsumtif. Salah satunya adalah grup idol K-pop yang berisikan 5 anak muda dengan rentang usia 16-20 tahun. Grup ini baru saja debut pada 18 Agustus 2025 dengan nama CORTIS (Color Outside the Lines). Grup ini memiliki konsep yang sangat berbeda dengan idol K-pop pada umumnya. Bukan hanya dalam musik, melainkan dalam aspek fashion. Apabila pada umumnya para idol K-pop memilih untuk membeli fashion yang baru dari berbagai merek mewah, maka CORTIS sendiri memiliki pandangan yang berbeda. Mereka lebih memilih thrifting dibandingkan harus membeli dari merek mahal. Dapat dibilang bahwa CORTIS menjadi pelopor idol K-pop yang menerapkan konsep sustainability fashion. Melihat adanya perbedaan ini, yang menunjukkan kesederhanaan dari grup K-pop tersebut, membuatnya mendapatkan atensi dari publik. 


Gebrakan Baru Industri Fashion K-Pop: Kembalinya Popularitas Thrifting 


One of CORTIS' member got caught by fans for going to thrifting shop. This action really makes thrifting popular again and inspires public to do more of thrifting shopping (Tiktok @cortisluvv)
One of CORTIS' member got caught by fans for going to thrifting shop. This action really makes thrifting popular again and inspires public to do more of thrifting shopping (Tiktok @cortisluvv)

Saat ini, thrifting kembali populer didasarkan pada konsep fashion dari CORTIS, dan sekarang muncul tren fashion yang baru yaitu “Ngortis”, tren fashion ala CORTIS. Jadi, tren fashion ini tidak seperti tren pada umumnya yang harus membeli “serba baru”, melainkan tren ini lebih ke memanfaatkan pakaian yang sudah tidak terpakai. Ini juga tertulis dalam lagu mereka yang berjudul “Fashion”. Dalam lagu ini, CORTIS menyampaikan bahwa tidak perlu memakai pakaian yang mahal untuk disebut sebagai fashion. Bagi mereka, pakaian yang bermodalkan thrifting juga dapat disebut sebagai fashion apabila kita dapat merasa nyaman dengan diri kita ketika memakainya dan dapat mendorong kepercayaan diri. 


Hal baru dari CORTIS ini yang mendorong masyarakat khususnya anak muda memiliki pandangan baru terhadap fashion dan saat ini, banyak sekali anak muda yang beralih mengikuti tren fashion ini. Tren ini lebih berfokus pada mendaur ulang pakaian lama menjadi suatu style yang baru. Walaupun pakaiannya merupakan pakaian bekas, hasil dari daur ulang; namun apabila dapat dilakukan mix and match dengan aksesoris yang tepat, maka tampilan yang dihasilkan akan tetap stylish. Ini yang menjadi prinsip dari tren fashion “Ngortis”.


Streetwear, Nyentrik: Konsep Fashion ala CORTIS


CORTIS with their unique sense of fashion that identical with simple but stylish fashion. This trend really encourages people specifically young adult to not consumptive in fashion (SBS Star)
CORTIS with their unique sense of fashion that identical with simple but stylish fashion. This trend really encourages people specifically young adult to not consumptive in fashion (SBS Star)

Tren fashion ala CORTIS ini identik dengan gaya fashion yang streetwear, vintage, casual. Jadi, tren ini  umumnya lebih ke pakaian yang simple, oversize seperti hoodie, cargo jeans, baggy pants, denim jeans. Selain itu, tren ini juga identik dengan layering outfit, yang mana menggunakan berbagai lapis pakaian seperti menimpa kaos dengan kemeja flanel ataupun kemeja denim. Bahkan, tren fashion ala CORTIS ini bisa diikuti hanya dengan bermodalkan kaos grafis yang nyentrik, baik dalam T-shirt maupun sleeveless


Ada juga satu hal yang paling ikonik dari tren Ngortis ini yaitu celana melorot, yang menjadi ciri khas dari grup K-pop CORTIS. Walaupun gaya “celana melorot” ini sudah ada sejak beberapa tahun lalu di Amerika yang dikenal dengan sagging, namun gaya ini sempat menjadi perdebatan ketika populer di 2020 lalu karena dinilai tidak etis, didasarkan pada norma sosial. Akan tetapi, CORTIS kembali mempopulerkan tren ini dan menjadi hal yang baru dalam gaya fashion idol K-pop. 


CORTIS with their iconic pants, that makes them get more recognition from public not just by their music but also from fashion (Paramatex)
CORTIS with their iconic pants, that makes them get more recognition from public not just by their music but also from fashion (Paramatex)

Berbeda dengan beberapa tahun lalu yang mendapatkan reaksi negatif, maka tahun ini setelah dipopulerkan kembali oleh CORTIS, gaya fashion ini justru mendapatkan atensi publik dan reaksi yang positif karena CORTIS dinilai berani tampil berbeda dan menghapus seluruh aturan tradisional yang mengatur kebebasan berpakaian. Tren fashion “Ngortis” ini bukan hanya diikuti oleh masyarakat, melainkan juga menginspirasi sesama idol K-pop


Tren Fashion “Ngortis” : Penekanan Kebebasan Berekspresi dan Kepedulian Lingkungan

Fashion ala CORTIS ini bukan hanya sekedar tren, melainkan ini menjadi bentuk bahwa kita dapat membebaskan diri kita untuk berekspresi melalui fashion, menandakan bahwa kita harus berani untuk tampil berbeda. Tidak hanya mengajarkan kebebasan, tren fashion ala CORTIS ini juga secara tidak langsung mengajak kita untuk peduli pada lingkungan karena tren ini tidak mengharuskan kita untuk membeli pakaian yang baru, melainkan kita dapat memanfaatkan pakaian lama maupun pakaian sehari-hari kita untuk tampil stylish. Hal ini juga tersirat dalam lagu “Fashion” dari CORTIS, yang mana lagu ini menyiratkan bahwa orang lain tidak memiliki hak untuk mengatur bagaimana cara berpakaian kita, melainkan diri kita sendiri yang berhak untuk mengatur bagaimana kita harus berpakaian karena kita yang paling mengetahui dan memahami karakteristik diri kita. Oleh karena itu, CORTIS ingin menyampaikan kepada kita bahwa berekspresilah semaksimal mungkin dengan fashion karena ini dapat menjadi cara untuk menunjukkan identitas kita.





Comments


Top Stories

  • Instagram
  • Facebook
  • Twitter

© 2023 by Sosiologi Fashion. All rights reserved. Powered by NFashionews

bottom of page