Fashion sebagai Ironi Modern: Shapewear adalah Solusi atau Politik Ekonomi?
- Cultural Threads
- Oct 15, 2025
- 4 min read
Updated: Oct 15, 2025
Dalam buku Adorned in Dreams, karya Elizabeth Wilson (2003), fashion dinyatakan sebagai salah satu fenomena yang menandai terjadinya modernisme. Dengan kata lain, fashion menjadi cerminan perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat atau cerminan kehidupan modern masyarakat, terlihat dari tren mode yang selalu berubah. Di era modernitas, fungsinya bukan hanya sebagai pakaian melainkan sering dijadikan sebagai bentuk pengekspresian identitas serta kelas sosial. Namun, menurut pandangan Elizabeth Wilson, fashion dinyatakan sebagai ironi modernis, yang mana adanya kontradiksi modernis kapitalis yang ditunjukkan dari fashion. Jadi fashion bukanlah sekedar gaya melainkan mengandung makna-makna dari realita sosial.
Fashion sebagai Cerminan Kontradiksi Modern
Salah satu kontradiksi tersebut dapat berupa tentang eksploitasi, pemborosan dan keindahan. Mode seringkali dikaitkan dengan kapitalis, berorientasi ekonomi. Hal tersebut dikarenakan fashion sering disebut sebagai bentuk seni, estetika, keindahan; namun itu ternyata tidak sepenuhnya benar, yang mana fashion justru didasarkan untuk mencari keuntungan. Terlihat dari bagaimana industri mode selalu menciptakan tren dan memproduksi secara massal untuk mendorong konsumerisme. Adanya tren yang selalu berubah, mendorong perilaku masyarakat untuk selalu mengikuti dan membeli agar selalu up to date, walaupun mereka tahu bahwa pakaian yang dibeli tidak fungsional, tidak dapat dipakai untuk kegiatan sehari-hari. Produksi massal biasanya identik dengan fast fashion atau pakaian mode cepat. Umumnya, untuk memaksimalkan keuntungan, merek fast fashion biasanya menggunakan material yang biayanya murah dan tidak premium, salah satunya seperti polyester. Polyester dapat merusak lingkungan karena ketika terkena air, akan melepaskan berbagai mikroplastik yang sulit terurai, yang nantinya akan mencemari ekosistem air. Selain berdampak pada lingkungan, ternyata fashion juga mengeksploitasi para pekerja. Dengan tuntutan jumlah produksi yang tinggi dalam waktu singkat, risiko yang dialami para pekerja sangat banyak, baik dari keselamatan hingga sosial; yang mana upah yang diterima tidak setara dengan pekerjaan yang dilakukan serta kesehatan mereka juga menjadi taruhannya karena dipaksa kerja terus-menerus untuk mencapai target. Ini menunjukkan bahwa fashion yang selalu dianggap suatu keindahan, seni ternyata merupakan bentuk eksploitasi dan pemborosan, karena selalu dikaitkan dengan ekonomi sehingga hanya mengutamakan profit tanpa memperhatikan aspek lainnya.
Adapun kontradiksi lainnya yaitu terkait dengan fashion sebagai pembebasan atau konformitas. Seperti yang kita tahu bahwa fashion ditujukan sebagai bentuk ekspresi karena dengan fashion, kita dapat menemukan kebebasan untuk menampilkan diri kita di publik. Namun, realita yang terjadi ternyata tidak seperti yang kita ketahui, yang mana fashion justru menjadi bentuk perbudakan atau konformitas, khususnya terhadap perempuan. Hal tersebut dikarenakan fashion seolah-olah membentuk standar yang harus dipatuhi perempuan, seperti perempuan harus memiliki tubuh yang langsing, putih, tinggi, dan lainnya. Adanya standar yang ditetapkan membuat perempuan sering merasa insecure, takut, sehingga harus selalu menyesuaikan diri dengan standar dan mengikuti tren fashion agar dapat diterima di kelompok masyarakat. Kontradiksi ini sangat relevan dengan realita sosial, yang mana fashion yang kita anggap sesuai dengan sifat, kepribadian sehingga kita pakai untuk mengekspresikan diri kita, ternyata tidak sesederhana itu. Faktanya, fashion yang sering membuat kita sebagai perempuan merasa takut, minder karena adanya standarisasi yang dibentuk untuk mendukung budaya konsumtif yang dibangun industri mode.
"Tubuh" Sebagai Objek Pengendalian
Dari kontradiksi-kontradiksi ini, kita dapat mengetahui bahwa tubuh kita bukan lagi dikendalikan oleh diri sendiri melainkan oleh industri mode. Dalam mengendalikan tubuh kita, industri mode menciptakan standarisasi yang dilegitimasi melalui media. Contohnya, ketika kita membuka aplikasi Instagram dan melihat influencer yang berfoto dengan memperlihatkan lekuk tubuhnya yang langsing, tinggi seperti seorang model; kita merasa bahwa influencer tersebut sangat cantik dan cocok untuk tren fashion apapun. Ini menunjukkan bahwa ada indikasi timbulnya rasa minder dari diri kita sehingga kita melakukan segala cara agar dapat sesuai dengan standar yang ada. Salah satunya adalah dengan mengenakan corset atau shapewear yang merupakan inovasi yang diluncurkan oleh industri mode. Produk ini diluncurkan oleh industri mode seakan-akan untuk menegaskan standar yang mereka tetapkan bahwa perempuan harus memiliki lekuk tubuh yang ramping untuk dapat dinyatakan cantik.

Paradoks Fashion: Shapewear Menjadi Alat Ekonomi
Allegra K, clothing brand yang berpusat di Shenzhen, China; memproduksi berbagai model pakaian dengan kualitas premium dan harga yang terjangkau. Merek ini selalu memproduksi pakaian yang sesuai dengan berbagai bentuk tubuh sehingga tidak mengherankan bahwa brand tersebut cukup populer. Berdasarkan fakta yang diperoleh, clothing brand ini juga meluncurkan shapewear untuk menunjang penampilan perempuan. Berdasarkan gambar yang diunggah oleh brand, kita dapat melihat bahwa model yang ditampilkan untuk mempromosikan shapewear ini adalah perempuan dengan tubuh yang langsing. Namun, yang kita ketahui bahwa salah satu fungsi shapewear adalah untuk membentuk ilusi ramping bagi perempuan yang memiliki tubuh berisi. Hal tersebut sangatlah tidak relevan dan konsisten, yang mana seharusnya model yang dipilih adalah perempuan dengan tubuh berisi untuk menunjukkan bahwa benar adanya fungsi dari shapewear. Umumnya perempuan yang menggunakan shapewear atau corset bertujuan untuk meningkatkan rasa percaya diri dan sesuai dengan standar kecantikan yang ditetapkan, walaupun harus menahan rasa tidak nyaman karena tubuh mereka yang terasa seperti diikat. Dalam hal ini, kita dapat menilai bahwa peluncuran corset atau shapewear merupakan bentuk konformitas untuk mendukung legitimasi standar yang dibentuk oleh industri mode.
Dari contoh corset atau shapewear ini, kita dapat menilai bahwa benar adanya fashion mencerminkan kehidupan modern yang selalu berkaitan dengan kapitalisme. Industri mode menghadirkan produk corset atau shapewear bukan semata-mata untuk memberikan solusi melainkan untuk mendapatkan profit. Industri mode seolah-olah ingin mempengaruhi persepsi terhadap tubuh perempuan bahwa perempuan yang cantik haruslah ramping agar ketika memasarkan produk yang diklaim sebagai solusi, bisa memperoleh dukungan dari masyarakat, yang nantinya dapat meningkatkan jumlah pembelian. Faktanya, kecantikan perempuan bukanlah dinilai dari bentuk tubuhnya namun karena adanya standarisasi, menyebabkan perempuan berlomba-lomba untuk menyesuaikan dengan standar agar merasa diterima oleh kelompok masyarakat. Ini yang dinamakan kesadaran palsu, yang sengaja dibentuk oleh industri mode untuk mengaburkan masyarakat terkait kapitalisme.
Bukan Sekedar Gaya, Tetapi Sebagai Sistem Kapitalis
Ternyata fashion tidak sesederhana apa yang ada dalam pikiran kita, bahkan dapat dibilang fashion sangatlah rumit untuk dipahami. Apabila kita berpikir fashion hanyalah suatu gaya, maka ini pemikiran yang salah. Fashion bukan hanya sekedar pakaian, melainkan ada makna yang “ambigu”. Ambiguitas ini yang dikenal dengan kontradiksi. Seperti yang kita ketahui bahwa fashion mencerminkan bagaimana kehidupan masyarakat modern. Jadi, fashion mencerminkan bagaimana perilaku masyarakat yang konsumtif karena adanya tren fashion yang selalu berubah. Selain itu, fashion juga berusaha menciptakan keseragaman untuk melegitimasi standarisasi yang dibentuk. Ini menunjukkan bahwa adanya relasi kuasa dan kapitalisme yang melandasi fashion.









Comments