Fashion & modernitas: simbol kebebasan dan kapitalis
- Cultural Threads
- Oct 15, 2025
- 4 min read

Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin modern, fashion kini tidak hanya digunakan untuk menutupi tubuh melainkan menjadi alat untuk mengekspresikan diri. Melalui fashion, individu dapat menampilkan bagaimana gaya hidup mereka, siapa mereka, serta nilai apa yang mereka yakini. Terdapat salah satu brand yang mencerminkan gaya hidup modern yaitu Mango.
Mango: Fashion gaya hidup modern
Brand fashion Mango didirikan pada tahun 1984 di Barcelona, brand ini tampil dengan gaya yang sederhana, kasual, elegan, stylish, serta memiliki potongan dan desain yang rapi. Tak hanya itu, Mango hadir dengan warna-warna yang cenderung netral seperti coklat, hitam, putih, dan abu-abu. Mango juga tergolong dalam jajaran brand middle end, sebutan ini mengarah pada istilah yang digunakan untuk menggambarkan brand atau produk yang berada di tengah-tengah antara brand high end (harga tinggi) dengan brand low end (harga terjangkau). Oleh karena itu, Mango seringkali menjadi pilihan bagi para konsumen yang mengharapkan produk dengan kualitas yang baik namun dengan harga yang miring atau bagi mereka yang tidak ingin mengeluarkan banyak biaya.
Koleksi brand Mango seringkali menampilkan pakaian yang cocok digunakan untuk semua kalangan, baik anak-anak hingga dewasa yang umumnya tinggal di wilayah urban atau perkotaan. Selain koleksi pakaiannya yang menarik, brand ini juga menjual produk lainnya seperti aksesoris dan perlengkapan fashion yang terdiri dari tas, sepatu, kacamata, perhiasan, sabuk, syal, topi dan jam tangan.
Mango menampilkan kehidupan modern yang elegan dan mewah, mereka menawarkan pakaian yang sederhana dan tidak berlebihan namun tetap mampu menunjukan gaya yang stylish. Hal ini tentunya mencerminkan nilai-nilai modernitas yakni efisiensi, rasionalitas, serta adanya keseimbangan antara keindahan dan kenyamanan. Gaya sederhana yang ditujukan brand ini justru membentuk disiplin estetik yang artinya brand ini mampu tampil profesional dan teratur sesuai dengan gaya hidup masyarakat perkotaan.

Fashion dan modernitas: Elizabeth Wilson
Menurut Elizabeth Wilson dalam buku Adorned in Dreams (2003) fashion adalah "ironi modernis" yaitu sebuah bentuk budaya yang memperlihatkan kontradiksi modernitas kapitalis. Fashion modern tersebut menawarkan kebebasan dan individualis, namun pada kenyataannya hal tersebut justru mengekang karena pada semua bentuk kebebasan dan individualitas itu dibentuk, diarahkan dan dibatasi oleh sistem ekonomi kapitalis yang mengutamakan keuntungan.
Wilson menjelaskan fashion yang terlihat individualitas dan memiliki kebebasan justru membuat semua orang mengikuti pola yang sama seperti membeli produk yang sedang tren, menggunakan gaya berpakaian yang sama, serta terus berbelanja (konsumtif) agar tidak dianggap ketinggalan zaman. Hal ini terjadi karena adanya pengaruh dari sistem kapitalis, yang menyebabkan fashion tidak hanya berfungsi untuk mengekspresikan diri namun juga menjadi alat yang dapat mengendalikan perilaku sosial.
Fashion bukan hanya tentang gaya, pakaian, atau tren, melainkan telah menjadi salah satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. Namun juga mencerminkan nilai-nilai, perubahan, serta adanya kontradiksi. Dengan kata lain, fashion itu sebagai cermin dari paradoks dalam kehidupan modern. Masyarakat modern menunjukan dirinya dapat tampil bebas dan mengekspresikan diri melalui pakaian, dimana hal ini sebenarnya telah terikat dengan aturan, tren, serta standar sosial yang dibentuk oleh ekonomi kapitalis.

Mango menjadi simbol gaya hidup modern
Mango sebagai salah satu brand yang menjadi simbol gaya hidup modern dengan menampilkan gaya elegan dan berkelas. Mango hadir dengan desain pakaian yang sederhana, namun tetap menyesuaikan dengan tren populer sesuai dengan perkembangan zaman. Gaya fashion yang dipasarkan atau dijual oleh brand ini seolah menjadi simbol yang memiliki kebebasan dan selalu ingin menampilkan yang terbaik.
Namun, jika dilihat berdasarkan teori Elizabeth Wilson citra modern yang dibentuk oleh Mango sebenarnya mencerminkan kontradiksi dalam modernitas kapitalis, artinya fashion yang ditampilkan memberikan kesan bebas, tetapi sebenarnya tetap dalam kendali sistem kapitalis.
Tak hanya itu Elizabeth Wilson menjelaskan bahwa fashion termasuk bagian penting dalam modernitas karena hal ini menggambarkan bagaimana keinginan setiap individu untuk dapat mengekspresikan diri dan identitas mereka. Dapat terlihat brand Mango memberikan ruang bagi setiap individu untuk dapat menampilkan kepribadian mereka melalui gaya dalam berpakaian, seperti pakaian kerja, pakaian formal, busana kasual dan lainnya. Konsumen Mango merasa bahwa mereka memiliki kebebasan dalam memilih gaya sesuai keinginan masing-masing, tapi kebebasan ini justru bersifat terbatas. Terbatas disini artinya, semua pilihan gaya serta warna-warna yang tersedia sudah ditentukan terlebih dahulu oleh sistem sesuai dengan industri fashion dan tren yang sedang populer.
Seiring dengan perkembangan zaman, fashion tentunya terus mengalami perubahan (dinamis). Adanya industri fashion yang menciptakan gaya tren musiman, membuat konsumen menjadi konsumtif (terus-menerus berbelanja), hal ini disebut sebagai kebebasan semu. Kebebasan semu dalam fashion berarti semua yang kita lihat sebagai pilihan, secara tidak sadar hal tersebut sudah dikendalikan, dibentuk dan diarahkan oleh sistem ekonomi kapitalis — yaitu sistem yang hanya memfokuskan atau mengutamakan keuntungan.
Jadi, apa yang kita anggap sebagai “bebas memilih” setiap individu dalam menggunakan fashion sebenarnya telah dipengaruhi oleh iklan, industri mode, dan tren pasar yang secara sengaja dibentuk agar setiap individu terus membeli dan mengikuti arus mode. Dibalik kata bebas dan individualitas, terdapat kendali ekonomi dan sosial yang membuat setiap individu terjebak secara tidak sadar dalam siklus konsumsi.
Tak hanya itu, Mango menunjukan adanya paradoks dan keseragaman (berasal dari konformitas menghasilkan keseragaman). Brand ini menekankan pesan bahwa setiap individu bebas tampil sesuai dengan gayanya masing-masing. Namun, jika dilihat brand mango sudah sangat terkenal yang menjadikan gaya khas brand ini tidak lagi dikatakan modern, melainkan menjadi keseragaman. Hal ini dapat dilihat ketika individu tampil mirip antara satu dengan lainnya karena mengikuti tren yang sama. Elizabeth Wilson berpendapat adanya fenomena ini disebut sebagai kontradiksi fashion modern, karena adanya keinginan tampil menjadi diri sendiri yang justru menghasilkan keseragaman — setiap individu harus tampil beda namun akhirnya terlihat sama.
Berdasarkan contoh dan konsep yang telah dijelaskan sebelumnya, dapat terlihat bahwa fashion kini menjadi simbol gaya hidup modern yang tampak elegan, stylish dan bebas, tetapi sebenarnya hal ini membentuk pola konsumsi serta standar sosial tertentu. Setiap individu merasa mereka dapat mengekspresikan diri melalui fashion, namun pilihan tersebut sebenarnya telah dibentuk dan diarahkan oleh tren dan kapitalis yang mendorong individu untuk terus berbelanja. Adanya hal ini, identitas modern menjadi mudah berubah, karena dibangun dari dari citra yang dibentuk oleh industri untuk mendapatkan keuntungan.
Oleh karena itu berdasarkan pandangan Elizabeth Wilson, brand Mango menjadi simbol dari paradoks fashion dalam modernitas kapitalis, hal ini dapat terlihat di satu sisi Mango menunjukan kenyamanan, kebebasan dan keindahan, namun disisi lain juga menunjukan adanya sistem kapitalis yang yang membentuk, mengatur, membatasi kebebasan.
Wilson menyebutkan fashion sebagai cermin kehidupan modern terlihat indah namun menekan, bebas namun dikendalikan, dan modern namun penuh keterasingan.









Comments