Fashion & Mediatisasi: Peralihan Praktik Industri Fashion
- Cultural Threads
- Nov 18, 2025
- 4 min read
Saat ini, kehidupan kita tidak pernah terlepas dari media digital. Setiap harinya, baik dalam waktu senggang maupun ketika ada kesibukan, kita akan selalu menyempatkan diri untuk mengakses media sosial seperti Instagram, TikTok, Youtube. Berbagai aktivitas kita lakukan melalui media sosial seperti mencari hiburan, membagikan konten, hingga mencari inspirasi. Kita seringkali mencari tahu tren apa yang sedang populer melalui media sosial, khususnya ketika berbicara tentang tren fashion. Apabila dulunya, tren fashion hanya dapat diketahui melalui majalah, film, televisi; maka sekarang akses kita untuk mengetahui tren semakin mudah karena adanya media sosial yang mempercepat penyebaran tren fashion.
Media Digital: Perubahan dalam Industri Fashion
Adanya media sosial justru menyebabkan pudarnya eksklusivitas dari suatu tren fashion karena masyarakat tidak harus mengeluarkan biaya untuk mengaksesnya. Sedangkan di masa lalu, dikarenakan tren fashion hanya dapat diketahui melalui majalah, film, atau televisi; sehingga umumnya tingkat eksklusivitasnya lebih tinggi karena tidak sembarang orang dapat mengaksesnya, hanya masyarakat kalangan atas yang memiliki akses lebih pada media-media tersebut karena memerlukan biaya yang cukup besar. Jadi, dapat dinyatakan bahwa media sosial mengubah eksklusivitas tren fashion menjadi suatu konten massal yang dapat diakses oleh seluruh tingkatan masyarakat secara global. Dengan kata lain, media sosial mengubah bagaimana suatu fashion diproduksi dan didistribusi, sesuai dengan pernyataan dari Agnes Rocamora (2016).
Media sosial bukan hanya memudahkan kita untuk sekedar mengetahui tren fashion yang sedang populer, melainkan juga mempengaruhi bagaimana kita mengkonsumsi fashion. Dulu ketika kita membeli pakaian, umumnya kita hanya akan mempertimbangkan kualitas, kenyamanan ketika memakainya. Namun setelah media sosial muncul, praktik konsumsi fashion hanya didasarkan pada visualisasinya karena tujuan kita bukan lagi hanya untuk sekedar sebagai pakaian yang melindungi diri kita, melainkan untuk difoto dan diunggah; sehingga dapat dinyatakan bahwa saat ini, fashion dijadikan sebagai ajang pamer. Hal ini sesuai dengan konsep mediatisasi dari Agnes Rocamora (2016) bahwa masyarakat berpakaian untuk memenuhi kebutuhan kamera, bukan lagi sebagai kebutuhan sehari-hari.
Media Digital: Menurunnya Ekslusivitas Fashion Show
Salah satu contoh nyata yang dapat menunjukkan konsep mediatisasi dari Agnes Rocamora yang menyatakan bahwa media digital bukan hanya lagi berperan sebagai alat untuk mengkomunikasikan fashion, tetapi mempengaruhi bagaimana fashion diproduksi, didistribusikan, dan dikonsumsi; terlihat dari industri fashion yang saat ini merancang produknya bukan lagi didasarkan pada kualitas, melainkan hanya pada visualisasi karena melihat perilaku konsumsi masyarakat yang sudah berubah yaitu membeli fashion yang dinilai terlihat bagus di kamera karena mereka memiliki tujuan untuk menampilkan image yang baik di media sosial. Dalam industri fashion, pengenalan produk fashion biasanya dilakukan dengan fashion show. Jika dulunya, fashion show sangatlah eksklusif, hanya dihadiri oleh masyarakat kalangan atas; sekarang, industri fashion justru sengaja untuk menayangkan event fashion show melalui media sosial, seperti Victoria’s Secret Fashion Show yang disiarkan melalui Prime Video, Instagram, Youtube sehingga seluruh kalangan masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk mengaksesnya.

Dengan menayangkan di media sosial, potensi viral dari produk yang dihasilkan tentunya akan meningkat dan dapat menjadi suatu tren. Ini yang menjadi tujuan suatu brand memproduksi dan menayangkan konten fashion show di media sosial karena mereka mengetahui bahwa media sosial dapat meningkatkan engagement masyarakat terhadap suatu brand. Namun, adanya media sosial justru menurunkan tingkat ekslusivitas dari suatu fashion show. Menunjukkan salah satu konsep mediatisasi dari Rocamora (2016) yaitu brand sengaja menayangkan peragaan busana secara online untuk menciptakan pengalaman virtual bagi masyarakat.
Media Digital: Dualitas Peran Masyarakat dalam Industri Fashion
Selain dengan fashion show, brand juga menggunakan jasa influencer untuk mempromosikan produknya. Influencer memiliki peran yang besar dalam mempengaruhi cara berpakaian seseorang. Salah satu influencer yang seringkali membahas tentang fashion adalah Olivia Lazuardy yang dapat dibilang telah lama berkarir di industri fashion. Influencer ini sering menjadi inspirasi masyarakat dalam berpakaian, khususnya bagi masyarakat yang memiliki kesamaan karakteristik dengan influencer tersebut. Olivia Lazuardy menampilkan dirinya di media sosial dengan style fashion yang mencerminkan strong feminine aesthetic, yang mendorong masyarakat untuk percaya diri mengekspresikan dirinya melalui fashion. Identitas yang ditampilkan influencer tersebut yang mendorong masyarakat mengikuti fashion Olivia Lazuardy. Sama seperti kita, Olivia Lazuardy juga merupakan konsumen di industri fashion, namun Olivia Lazuardy juga dapat disebut sebagai produsen. Fashion yang dipakai oleh Olivia Lazuardy tentunya bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk menunjukkan dirinya di media sosial, yang mana setiap fashion yang dipakai atau yang dikenal dengan OOTD (Outfit of The Day) diunggah oleh influencer ini sehingga menciptakan kesan ideal dan mempengaruhi masyarakat lainnya.

Kita tidak harus menjadi influencer untuk memiliki peran ganda, yaitu sebagai konsumen dan juga produsen. Seringkali kita sudah melakukan praktik tersebut, namun kita tidak menyadarinya. Dapat dilihat dari kita yang selalu mengunggah foto maupun video tentang gaya berpakaian kita di akun media sosial pribadi. Ketika kita sedang merasa bahwa pakaian kita terlihat bagus, secara tidak sadar kita pasti akan selalu berfoto dan membagikannya sebagai bentuk validasi sosial. Walaupun terkadang kita hanya ingin menunjukkan bagaimana diri kita, menyimpan memori; namun bisa saja ketika kita membagikan media sosial, teman-teman kita terinspirasi.
Media Digital Mengubah Prioritisasi Fashion
Dapat dinyatakan bahwa media sosial telah mengubah praktik dalam industri fashion. Bukan hanya bagi brand, namun juga masyarakat yang merupakan konsumen. Dulunya masyarakat hanya dianggap pasif menerima setiap tren fashion, sedangkan saat ini sejak adanya kemunculan media sosial, masyarakat tidak hanya menerima, melainkan juga menciptakan tren. Saat ini, masyarakat selalu menganggap kamera sebagai prioritas utama sehingga apapun yang dilakukan harus difoto dan diunggah di media sosial. Begitu pula dengan fashion, yang mana masyarakat tidak lagi memikirkan kenyamanan dirinya dalam menentukan cara berpakaian; melainkan hanya mempertimbangkan visualisasinya. Jadi, walaupun mereka merasa tidak nyaman; namun ketika mereka merasa pakaian yang dipakai dapat terlihat bagus di kamera, mereka akan tetap memakainya untuk kebutuhan media sosial.
Referensi:
Rocamora, A. (2016). Mediatization and digital media in the field of fashion. Fashion Theory









Comments