top of page

Fashion & Mediatisasi: Media Sosial Mereproduksi Ketidaksetaraan Sosial?

  • Writer: Cultural Threads
    Cultural Threads
  • Nov 25, 2025
  • 4 min read

Saat ini, tanpa disadari bahwa seluruh aktivitas kita tidak terlepas dari pengaruh teknologi. Salah satunya dapat dilihat dari cara kita berkomunikasi, yang mana sekarang kita lebih sering berkomunikasi dengan media sosial. Perkembangan teknologi membuat proses komunikasi bukan hanya sekedar mengirim pesan, melainkan juga dengan mengunggah foto maupun video di media sosial. Melalui unggahan tersebut, dapat mendorong orang lain untuk berinteraksi dengan kita, seperti likes, comments. Setelah adanya teknologi, aktivitas seperti ini dapat juga dinyatakan sebagai proses komunikasi, yang mana unggahan di media sosial merupakan pesan yang ingin kita sampaikan dan likes atau comments dari orang lain sebagai feedback atas pesan kita tersebut. 


Teknologi: Perubahan Praktik Konsumsi Fashion 

Tidak hanya tentang cara berkomunikasi, perkembangan teknologi juga mengubah cara berpakaian. Seringkali kita menganggap pakaian hanya sekedar untuk melindungi diri, namun yang tidak kita ketahui adalah pakaian juga menjadi bentuk pengekspresian diri kita. Hal ini sejalan dengan peralihan fungsi komunikasi yang mana suatu proses komunikasi sudah dapat dikatakan tercipta hanya dengan adanya unggahan di media sosial. Umumnya kita lebih sering mengunggah foto yang secara tidak langsung untuk menunjukkan pakaian yang dipakai atau dikenal dengan sebutan ootd (outfit of the day). Saat ini, konsep ootd tersebut sangat populer dimana para influencer sering membagikan konten-konten tersebut di media sosial dan kita yang sebagai masyarakat juga terpengaruh untuk melakukan hal yang sama. Maka dari itu, dapat dinyatakan bahwa setelah adanya teknologi, seluruh perilaku masyarakat berubah, khususnya dalam praktik konsumsi fashion dimana yang diprioritaskan bukan lagi tentang fungsi, melainkan tampilan. Sesuai dengan teori dari Agnes Rocamora (2016) yaitu saat ini masyarakat lebih mementingkan untuk memenuhi kebutuhan kamera dibandingkan kenyamanan diri. 


Media Sosial: Wadah Reproduksi Ketidaksetaraan

Perkembangan teknologi yang mendorong perubahan perilaku masyarakat secara tidak langsung menjadi faktor utama ketidaksetaraan direproduksi. Kita dapat melihat ketidaksetaraan tersebut direproduksi secara transparan yaitu dari konten yang diunggah di media sosial. Dari konten yang diunggah, kita dapat langsung mengetahui kelas sosial mereka dan salah satu elemen menonjol yang memperlihatkan adanya perbedaan kelas sosial adalah dari fashion. Umumnya, masyarakat kelas atas akan mengunggah di media sosial dengan mereka yang memakai luxury fashion. Ketika melihat unggahan tersebut, kita pasti akan langsung notice bahwa mereka memiliki tingkat ekonomi yang kuat. Seringkali, masyarakat kelas menengah dan bawah tertarik untuk mengikuti style fashion dari masyarakat kelas atas agar dapat dibilang setara dan diterima dalam sistem sosial. Walaupun fashion tidak sepenuhnya menunjukkan keaslian kelas sosial, namun seperti yang kita ketahui bahwa fashion sekarang telah menjadi bentuk identitas sehingga orang-orang akan lebih mempercayai apa yang mereka lihat dari luar. Maka dari itu, masyarakat kelas atas sering dan selalu menjadi inspirasi dalam hal fashion.


Media Sosial: Terjadinya Demokratisasi Fashion

Apabila dulunya, akses terhadap fashion kelas atas hanya dapat diperoleh melalui majalah, film, televisi; namun sekarang akses kita sudah sangat mudah karena adanya perkembangan teknologi yang mendorong kemunculan media sosial. Dikarenakan media sosial yang sangat mudah digunakan dan bersifat global, sehingga dapat mempercepat penyebaran tren fashion. Hal inilah yang menyebabkan eksklusivitas fashion kelas atas sudah mulai pudar karena sudah bisa diikuti oleh banyak orang. Adanya penyebaran tren yang cepat inilah yang mendorong terjadinya proses demokratisasi fashion. Konsep demokratisasi fashion mungkin terdengar asing bagi masyarakat awam, namun konsep ini menyatakan bahwa fashion tidak lagi bersifat eksklusif untuk kelas atas melainkan sudah bisa dijangkau secara massal oleh seluruh tingkatan masyarakat.  Hal ini tidak terlepas dari pengaruh media sosial karena hanya dengan kita mengakses para influencer fashion melalui media sosial, kita sudah bisa mengetahui tren fashion apa yang sedang populer. 


Influencer Sebagai Pengendali Tren Fashion



Tamara Dai, One of Indonesian influencers that represents Indonesia in Runway Paris Fashion Week 2023/ Detik.com
Tamara Dai, One of Indonesian influencers that represents Indonesia in Runway Paris Fashion Week 2023/ Detik.com

Influencer menjadi salah satu faktor penting yang mendorong terjadinya demokratisasi fashion. Benar adanya bahwa demokratisasi fashion terjadi karena adanya media sosial, namun apabila tidak ada peran influencer yang mempopulerkan tren maka proses ini juga tidak akan terjadi. Salah satu influencer yang menjadi inspirasi fashion masyarakat pada umumnya adalah Tamara Dai. Influencer ini bukan hanya sekedar mengunggah konten fashion di media sosial, melainkan juga merupakan model yang bahkan bukan hanya di Indonesia tetapi sudah sampai mancanegara. Pada tahun 2023, Tamara sudah pernah runway di Paris Fashion Week 2023 bersanding dengan model lainnya. Melihat pengalamannya di dunia fashion yang cukup luas, membuat masyarakat menilai bahwa influencer ini layak dijadikan sebagai tokoh inspirasi fashion


One of Tamara Dai's casual, simple fashion but she really upscales the looks to be very elegant/ liputan6.com
One of Tamara Dai's casual, simple fashion but she really upscales the looks to be very elegant/ liputan6.com

Style fashion dari Tamara Dai sangat mencerminkan kepribadian dan kelas sosialnya, yang mana fashion-nya lebih ke stylish, simple but fashionable. Jadi, dapat dibilang bahwa sense fashion dari Tamara ini sangat sederhana namun dia mampu mix and match hingga menjadi looks yang sangat elegan. Melihat hal ini, masyarakat tertarik dan berusaha mengikuti style dari influencer tersebut. Walaupun tidak seluruh masyarakat mampu mengkonsumsi merek fashion yang mewah seperti Tamara Dai, namun adanya media sosial yang menyebarkan tren dengan cepat membuat berbagai merek fast fashion ramai memproduksi pakaian yang mirip dengan luxury brand. Adanya fast fashion ini yang menjadi solusi masyarakat dalam mengikuti style fashion para influencer. Masyarakat pada umumnya tidak lagi mempertimbangkan untuk mengikuti fashion dari merek maupun harganya, melainkan lebih ke pertimbangan apakah fashion yang dipakai relevan dengan tren. Ini menandakan bahwa tren fashion saat ini dikendalikan oleh para influencer, bukan lagi oleh desainer maupun merek-merek mewah. 


Aksesibilitas Fashion: Menghilangkan atau Mereproduksi Ketidaksetaraan?

Apabila dulu dimana fashion masih sangat eksklusif, kita dapat melihat adanya ketidaksetaraan yang melingkupi dalam sosial. Akan tetapi, setelah kemunculan media sosial yang didasarkan dari perkembangan teknologi, sifat eksklusif dari fashion menjadi pudar. Bukan hanya eksklusivitas saja yang memudar, melainkan ketidaksetaraan juga secara perlahan sudah mulai tidak terlihat. Hal tersebut dikarenakan adanya proses demokratisasi fashion yang terjadi karena teknologi dimana akses terhadap fashion yang semakin mudah.


Namun, dapat dinyatakan juga bahwa akses yang mudah ini justru dapat mendorong adanya ketidaksetaraan karena dengan akses yang terlalu mudah, pastinya masyarakat akan lebih mengetahui mana fashion kelas atas dan kelas bawah sehingga akan terlihat secara jelas bagaimana kesenjangan itu ada dalam kehidupan sosial. Oleh karena itu, dapat dinyatakan bahwa proses demokratisasi memiliki peran ganda yaitu menurunkan serta menciptakan ketidaksetaraan. Akses terhadap fashion yang terlalu mudah mungkin dianggap sebagai hal yang positif karena memberikan pengetahuan, namun yang perlu diketahui juga adalah kemudahan akses ini justru berpotensi memberikan dampak negatif khususnya bagi masyarakat yang kurang bijak dalam mengelola informasi yang diperoleh. 



Referensi:

Rocamora, A. (2016). Mediatization and digital media in the field of fashion. Fashion Theory.

Comments


Top Stories

  • Instagram
  • Facebook
  • Twitter

© 2023 by Sosiologi Fashion. All rights reserved. Powered by NFashionews

bottom of page