top of page

Fashion dan Konsumsi: makna tersembunyi dibalik fashion

  • Writer: Cultural Threads
    Cultural Threads
  • Nov 11, 2025
  • 5 min read

Apa yang kamu tahu tentang fashion? ya, fashion seringkali dikenal sebagai istilah pakaian yang kita kenakan sehari-hari. Tetapi, dibalik kata pakaian, apakah kalian sadar bahwa fashion sebenarnya menunjukan siapa identitas kita. Tak hanya itu, fashion kini telah menjadi gaya hidup dan status sosial. Ketika seseorang memilih pakaian yang akan dikenakan, seringkali yang menjadi pertimbangan tidak hanya tentang kenyamanan, melainkan tentang bagaimana ia ingin dilihat oleh orang lain. 


Casual Fashion / lifestyle.kompas.com
Casual Fashion / lifestyle.kompas.com

Hubungan fashion dan konsumsi dalam membentuk identitas sosial.

Fashion dan konsumsi merupakan dua hal yang saling berhubungan erat dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat modern. Keduanya tidak hanya membahas mengenai pakaian saja, melainkan tentang bagaimana cara seseorang dalam membentuk identitas dan menunjukan status sosialnya dalam masyarakat. Fashion sendiri merupakan produk budaya yang dikonsumsi oleh masyarakat, sementara konsumsi merupakan sebuah cara bagaimana fashion dapat tetap hidup dan berkembang. Tetapi, dalam konteks sosial konsumsi tidak hanya soal kebutuhan. Terkadang seseorang mengkonsumsinya karena makna dan simbol yang melekat pada barang tersebut. 


Adanya media sosial juga dapat berpengaruh terhadap bagaimana cara seseorang mengkonsumsi suatu barang tertentu. Seringkali seseorang melihat trend fashion melalui media sosial yang kemudian mereka ikuti. Hal ini tentunya dapat mempengaruhi seseorang, karena trend fashion yang terus berubah sewaktu-waktu dapat menyebabkan seseorang menjadi konsumerisme. Mereka membeli suatu barang tanpa memikirkan fungsi atau kegunaan, melainkan melihat dari sisi trend yang sedang populer. Terdapat alasan mengapa seseorang menjadi konsumerisme yaitu karena mereka ingin dihargai, diterima, dan dianggap oleh  kelompok sosial tertentu. 



Stylish and formal fashion / Malkelapagading.com
Stylish and formal fashion / Malkelapagading.com

Brand The Executive: hadir dengan gaya profesional 

Di era yang sudah modern ini, fashion tidak hanya sekedar kebutuhan untuk melindungi diri. Fashion kini telah menjadi bagian dari gaya hidup dan cara seseorang untuk menampilkan atau mengekspresikan diri mereka. Setiap pakaian yang dipilih tentunya mencerminkan siapa diri mereka. Tak hanya itu, fashion telah menjadi bagian penting dari budaya konsumsi, dimana pakaian bukan hanya dianggap sebagai sesuatu yang fungsional melainkan menjadi sebuah simbol yang mempunyai makna. 


Seiring dengan perkembangan zaman, banyak sekali brand fashion yang bermunculan. Terdapat salah satu brand lokal terkenal dengan tampilannya yang berkelas dan elegan, yaitu brand The Executive. Brand ini diproduksi oleh PT. Delami Garment Industries, yang didirikan oleh Johanes Farial pada tahun 1984 di Bandung. The Executive telah menjadi salah satu brand fashion ternama dan banyak dikenal luas di Indonesia, yang berfokus pada pakaian profesional dengan kualitas tinggi yang menggambarkan gaya hidup kelas menengah perkotaan yang ingin terlihat berkelas (mewah), modern, dan percaya diri dengan budget yang masih affordable


Brand The Executive ini, menampilkan konsep smart casual dan executive look. Smart Casual  yaitu fashion style yang mengkombinasikan unsur formal dan casual dalam satu tampilan yang harmonis. Nuansanya santai, tetapi tetap rapi dengan tampilan yang clean. Gaya smart casual juga mencerminkan profesionalisme. The Executive menampilkan identitas yang elegan, profesional dan modern. Sasaran atau target pasarnya yakni pria dan wanita kisaran usia 17 - 40 an. Namun lebih didominasi oleh generasi muda. Koleksi fashion-nya dominan seperti, blazer, kemeja, celana bahan, dan dress. Dapat dilihat melalui pakaian yang digunakan, seseorang bukan hanya ingin menampilkan dirinya, melainkan juga menunjukan posisi sosial dan nilai yang dianggap penting. Tak hanya itu, fashion juga bukan hanya membahas tampilan fisik, tetapi dapat membentuk citra sosial dan makna tertentu bagi pemakainya.


Fashion: hadir sebagai ekspresi diri atau tekanan sosial?

Seperti yang kita ketahui, pada umumnya fashion seringkali dianggap sebagai sebuah bentuk ekspresi diri, tetapi pada kenyataannya fashion justru dipengaruhi oleh tekanan sosial. Adanya trend yang terus berubah-ubah secara cepat di media sosial dapat mempengaruhi seseorang secara tidak sadar mereka merasa bebas dalam menentukan pakaian yang akan digunakan, namun kenyataannya mereka sedang mengikuti pola konsumsi yang dibentuk oleh industri mode. Fenomena ini dinilai simbolik (ada makna atau tanda tertentu) karena seseorang membeli suatu barang karena keinginan (trend) dan bukan karena kebutuhan atau kegunaannya. Sehingga, fashion disini dapat menjadi ruang untuk mengekspresikan diri, tetapi ekspresi tersebut seringkali diatur oleh norma sosial. 



simple, clean and semi formal fashion / jurnalpemalang.co.id
simple, clean and semi formal fashion / jurnalpemalang.co.id

Pandangan para ahli : Fashion dan konsumsi

Terdapat beberapa pandangan para ahli mengenai fashion dan konsumsi. Menurut  Thorstein Veblen (1899) dalam buku “The Theory of Leisure Class” menjelaskan konsep conspicuous consumption atau konsumsi yang mencolok. Pandangannya menekankan aspek sosial dan ekonomi dari konsumsi, ia menjelaskan bahwa seringkali seseorang membeli barang bukan kebutuhan mereka, melainkan karena mereka ingin menunjukan status sosialnya. Setiap barang yang dibeli dan dipakai kini menjadi simbol kelas seseorang dalam perspektif orang lain. 


Jika dilihat berdasarkan teori Veblen terhadap konsumsi produk brand The Executive dapat dikatakan sebagai bentuk konsumsi simbolik. Brand tersebut menjual harga yang masih tergolong affordable (terjangkau), meskipun begitu brand ini mampu memberikan kesan berkelas. Saat seseorang menggunakan koleksi pakaiannya, The Executive mampu menampilkan citra sebagai profesional muda dengan selera elegan yang terkesan mencolok (terlihat mewah).   


Disisi lain, Veblen juga menjelaskan bahwa kelas sosial dapat menentukan motivasi konsumsi seseorang. Semakin tinggi kelas seseorang maka semakin besar juga dorongan untuk tampil dengan eksklusif yang menunjukan kemewahan melalui pakaian yang ia kenakan. Hal ini dapat dilihat pada kelas menengah yang selalu berusaha untuk meniru gaya fashion kelas atas dengan versi yang lebih terjangkau. Dalam konteks ini, brand The Executive mampu menempatkan posisi dimana ia menawarkan produknya yang terkesan elegan dan berkelas dengan harga yang terjangkau. Tak hanya kelas sosial, Veblen juga menjelaskan terkait gender. Gender disini memiliki peran yang besar, seperti wanita cenderung mempunyai tekanan sosial lebih tinggi untuk tampil sesuai dengan trend yang berkembang dan seringkali menunjukan sisi anggun serta berkelas, sedangkan pria cenderung ingin tampil dengan minimalis dan maskulin. Hal ini tentunya diikuti dengan usia, karena dapat mempengaruhi selera dan kebutuhan. Misalnya, anak muda seringkali ingin tampil dengan gaya yang santai namun fashionable, sementara orang dewasa, orang tua atau pekerja biasanya ingin tampil dengan mengutamakan kepraktisan, kenyamanan, gaya yang rapi dan formal, meskipun begitu tetap memperhatikan nilai estetika.


Selain berdasarkan pandangan Thorstein Veblen, terdapat juga pandangan terkait fashion dan konsumsi menurut Jean Baudrillard (1970) dalam buku La Societe de Consommation” menjelaskan bahwa konsumsi dianggap sebagai sistem tanda, artinya pakaian tidak hanya digunakan untuk melindungi tubuh melainkan juga sebagai bahasa dan simbol yang digunakan untuk menunjukan identitas, gaya hidup, dan bagaimana kita ingin dipersepsikan oleh orang lain. Dalam pandangannya menekankan sisi simbolik dan makna dalam konsumsi modern, ia menjelaskan bahwa seseorang tidak lagi mengkonsumsi barang berdasarkan fungsi atau kegunaan, melainkan berdasarkan makna simbolik (pesan sosial) yang terkandung atau melekat pada suatu barang tertentu.


Saat seseorang menggunakan koleksi dari The Executive, ia menggunakannya bukan karena bahannya yang nyaman, melainkan karena simbol yang diwakilinya seperti kemewahan, profesional, elegan, dan modern. Sehingga pakaian menjadi sebuah simbol yang membedakan mereka dengan orang lain. Baudrillard juga menjelaskan bahwa dalam budaya konsumsi modern, tanda atau simbol dapat menggantikan realitas (simulacra). Seperti, ketika seseorang lebih percaya diri atau terlihat lebih elegan, sukses dengan mengenakan pakaian brand The executive, meskipun sebenarnya posisi sosialnya belum sesuai dengan citra diri yang ditampilkan. Dalam konteks ini, fashion dapat menjadi alat simulasi dalam menciptakan gambaran realitas yang diinginkan dan bukan realitas yang sebenarnya. 


Fashion dan konsumsi kini dapat mencerminkan bagaimana seseorang membangun identitas nya di tengah masyarakat modern. Melalui kedua teori tersebut, dapat dipahami bahwa pakaian tidak hanya berfungsi untuk melindungi tubuh, namun juga dapat menjadi simbol atau makna. Menurut Veblen menjelaskan terkadang seseorang membeli fashion untuk menunjukan status sosialnya, sedangkan menurut Baudrillard menjelaskan bahwa seseorang membeli karena melihat simbol yang melekat pada fashion tersebut. Dari perspektif kedua para ahli, mengajarkan bahwa konsumsi bukan hanya aktivitas ekonomi, melainkan juga sebagai proses sosial dan simbolik. 



Referensi :

Baudrillard, J.P. (1970). La Societe de Consommation.

Veblen, T. (1899). The Theory of the Leisure Class.




Comments


Top Stories

  • Instagram
  • Facebook
  • Twitter

© 2023 by Sosiologi Fashion. All rights reserved. Powered by NFashionews

bottom of page