Fashion and Identity: SHEIN Products as Dualism of Social Construction or Personal Desire?
- Cultural Threads
- Oct 24, 2025
- 5 min read
Dalam buku “Creating Identity Through Fashion: A Study of Mindful Consumption at Filippa K” karya Jennifer Mayer (2019), terdapat sebuah pernyataan yang menegaskan bahwa sekelompok perempuan menggunakan fashion untuk mengekspresikan identitas dirinya dan dilakukan dalam praktik yang sadar, berdasarkan keinginan diri sendiri. Pernyataan tersebut diperoleh dari hasil penelitian Jennifer Mayer terhadap konsumen perempuan merek fashion asal Swedia, Filippa K, yang mana ditemukan fakta bahwa para konsumen lebih memilih untuk mengekspresikan identitas dirinya dengan menggunakan fashion yang nyaman, autentik, dan sesuai dengan kepribadian yang dimiliki. Dalam hal ini, Jennifer menyatakan bahwa fashion bukan hanya sekedar tren, melainkan merupakan suatu medium untuk menunjukkan nilai-nilai moral, karakteristik yang dimiliki individu. Berdasarkan pernyataan dari Jennifer Mayer, ditekankan bahwa identitas yang dibangun melalui fashion adalah hasil keinginan diri sendiri, tidak ada tekanan maupun unsur lainnya yang mempengaruhi pembentukan identitas tersebut. Dengan kata lain, individu sendiri yang menentukan gaya fashion yang cocok untuk menampilkan identitas dirinya, tidak dipengaruhi oleh aspek sosial seperti gengsi, standar, media sosial. Maka dari itu, identitas yang terbangun sangatlah murni karena fashion yang digunakan secara transparan mengekspresikan karakteristik individu.
Berbeda dengan Jennifer, para tokoh sosiologis lainnya menyatakan bahwa fashion bukanlah sesuatu yang bersifat pribadi, melainkan merupakan hasil dari konstruksi sosial. Dengan kata lain, fashion diproduksi, diatur, dan dimaknai secara sosial. Berdasarkan pernyataan dari para tokoh sosiologis, diketahui bahwa pakaian yang kita kenakan bukan sepenuhnya atas keinginan kita, melainkan karena adanya tren, budaya yang berkembang. Contohnya, crop top seringkali dipakai oleh perempuan, walaupun kemungkinan beberapa diantaranya ada yang merasa tidak nyaman; namun dikarenakan pakaian tersebut sedang tren, sehingga para perempuan memutuskan untuk mengenakan pakaian tersebut agar dianggap sebagai individu yang up to date sehingga dapat diterima dalam lingkungan masyarakat dan memiliki keterikatan emosional dengan kelompok-kelompok sepantaran. Menandakan bahwa fashion tidak dapat sepenuhnya mengekspresikan diri karena adanya interaksi dengan pihak eksternal yang menyebabkan individu memandang fashion sebagai medium untuk membangun hubungan sosial (Blanchard-Emmerson, 2022 dalam Fisabilillah, 2024).
George Simmel: Dualisme Individualitas dan Konformitas
Salah satu tokoh sosiologis yang memiliki pandangan yang berbeda dengan Jennifer Mayer adalah George Simmel (1858-1918). Simmel menyatakan bahwa terbentuknya identitas individu melalui fashion adalah hasil dari konstruksi sosial akibat adanya ketegangan/ konflik dalam diri, yang berupa dilema antara individualitas dan konformitas (Zarebazakabadi, 2019). Sisi individualitas tersebut dapat terlihat dari bagaimana individu ingin menampilkan dirinya berbeda dengan masyarakat pada umumnya sehingga seringkali membentuk tren yang baru dan berbeda dari tren lainnya. Namun, terkadang timbul rasa asing ketika individu tidak mengikuti tren fashion yang sedang berkembang dan memiliki gaya fashion yang berbeda dengan masyarakat lainnya. Hal tersebut dikarenakan kita memiliki keinginan untuk diterima dan menjadi bagian dari suatu kelompok, sehingga individu memutuskan untuk meniru, menyamakan diri dengan tren fashion yang berkembang. Ini menandakan bahwa identitas seseorang tidak dapat hanya dinilai melalui fashion, karena fashion tidak sepenuhnya mencerminkan diri seseorang. Berlandaskan pada pernyataan Simmel, sangat besar kemungkinan identitas seseorang akan berubah ketika tren fashion juga berubah.
Contohnya seperti masyarakat kelas bawah yang mengimitasi gaya fashion kelas atas karena ingin mendapatkan penerimaan di kelompok masyarakat. Walaupun fashion yang diimitasi seringkali tidak cocok dengan kepribadian yang dimiliki dan ingin mempunyai gaya fashion tersendiri agar dapat menunjukkan sisi keunikannya, namun masyarakat kelas bawah menolak untuk mempertimbangkan hal tersebut karena adanya rasa asing, takut akan penolakan sehingga mereka selalu mengikuti fashion kelas atas. Akan tetapi, kelas atas tidak menyukai fashion yang sudah banyak diadopsi oleh masyarakat karena menganggap nilai eksklusivitas dari fashion telah pudar sehingga masyarakat kelas atas akan membentuk tren yang baru. Ketika muncul tren baru, masyarakat kelas bawah akan secara terus-menerus mengikutinya sehingga tanpa disadari identitas mereka tidak mutlak, selalu berubah-ubah. Maka dari itu, kita tidak dapat melihat identitas seseorang hanya dari gaya fashionnya.

SHEIN: Representasi Perkembangan Tren
SHEIN, merek fashion asal China, sangatlah populer di kalangan anak muda beberapa waktu ini. Hal tersebut dikarenakan merek fashion ini selalu berinovasi dengan memproduksi dan merilis model pakaian yang baru dalam rentang waktu yang cepat. Selain karena selalu mengikuti perkembangan tren, harga produk SHEIN juga sangat terjangkau. Inilah yang menyebabkan masyarakat, khususnya generasi Z, menyukai merek fashion tersebut. Gayanya yang beragam, mulai dari casual, simple, streetwear hingga glamour, elegant dapat menarik atensi masyarakat sehingga merek ini dapat berkembang dengan sangat pesat.
SHEIN: Identitas Sebagai Hasil Konstruksi Sosial atau Keinginan?
SHEIN yang merupakan merek fast fashion seringkali digunakan individu sebagai alat untuk diterima oleh kelompok sosial masyarakat. Hal tersebut dikarenakan merek ini sering merilis pakaian-pakaian yang sesuai dengan tren fashion yang berkembang, sehingga individu mengenakan pakaian tersebut untuk membentuk identitas diri. Namun, individu seringkali merasakan dilema karena menganggap produk SHEIN tidak sesuai dengan diri mereka yang sebenarnya; seperti salah satu kategori produk dari SHEIN yaitu SHEINSXY, yang mana seluruh model pakaiannya sangat terbuka, vulgar dan individu sering merasa tidak nyaman untuk mengenakannya. Akan tetapi, mereka mengesampingkan hal tersebut dikarenakan ingin mendapatkan rasa pengakuan, penerimaan dari publik. Sesuai dengan pemikiran Simmel, individu selalu mengikuti tren fashion dikarenakan mereka menginginkan kesamaan, khususnya dalam status sosial, walaupun mereka juga ingin tampil berbeda dengan masyarakat lainnya; namun mereka tidak dapat melakukannya karena banyak sekali pertimbangan sosial. Ini menunjukkan bahwa adanya ketegangan dalam diri individu terkait dengan fashion. Jadi, banyak sekali individu yang mengenakan pakaian bukan karena keinginan sendiri melainkan karena adanya pengaruh dari lingkungan, media sosial, dan tren populer sehingga identitas diri yang dibangun oleh mereka melalui fashion merupakan hasil dari konstruksi sosial, bukan murni sesuai dengan diri mereka.

SHEIN sering merilis tren fashion terkini, yang salah satunya ala-ala 20’s girls, yang mana model-model pakaiannya sangat casual, simple namun tetap stylish. Dari kampanye iklan yang didistribusikan melalui media sosial, kita dapat melihat bagaimana tren fashion ini lebih manusiawi, masih sesuai dengan karakteristik remaja perempuan pada umumnya. SHEIN sendiri merilis model pakaian ini dengan mengkombinasikan sisi kenyamanan dan modis, sehingga individu yang mengenakannya dapat merasa stylish namun tetap bisa authentic, yaitu individu dapat menunjukkan diri yang sebenarnya dan tidak merasa takut akan penolakan publik karena produk dari SHEIN ini masih tetap mengikuti tren. Realitas sosial saat ini, yang mana “tubuh” kita seakan-akan dikendalikan oleh standarisasi baik di media sosial, lingkungan masyarakat; menjadi bukti bahwa tubuh kita dikonstruksi secara sosial. Untuk menentang realitas tersebut, individu harus memiliki kesadaran akan diri sendiri dan menentukan gaya fashion yang sesuai dengan dirinya; relevan dengan pemikiran dari Jennifer Mayer bahwa kita bukan hanya sekedar mengikuti tren fashion melainkan harus melakukan praktik yang sadar, etis dalam proses konsumsi. Ketika kita sadar dalam penentuan fashion, pastinya kita akan lebih bijak dengan berfokus pada kualitasnya dan bukan nilai sosial maupun emosional, sehingga secara tidak langsung kita mendukung keberlanjutan (sustainability).
Fashion dan Identitas: Perdebatan Diri
“Tubuh” haruslah dikendalikan oleh diri sendiri, bukan mengikuti standarisasi yang dibentuk oleh tren fashion. Hal tersebut dikarenakan identitas diri terbentuk melalui fashion. Jadi, apabila seluruh tren fashion diikuti, maka tanpa disadari identitas yang terbentuk juga tidak mengekspresikan diri yang sebenarnya. Namun, apabila individu sadar akan menentukan gaya fashionnya, maka dapat dipastikan bahwa identitas yang terbentuk menunjukkan keaslian diri. Ini menunjukkan bahwa individu yang bisa menentukan identitas dirinya– apakah ingin mendefinisikan dirinya sesuai dengan yang sebenarnya atau mengikuti nilai sosial yang berkembang. Kedua pernyataan tersebut selalu menjadi perdebatan publik dan ketegangan yang mendasari persepsi terkait dengan pembentukan identitas melalui fashion. Berdasarkan pandangan saya, fashion faktanya bisa menjadi bentuk pengekspresian diri sesuai dengan keinginan maupun sebagai legitimasi konstruksi sosial, tergantung dari penilaian dan perilaku individu. Jadi, tidak ada yang perlu diperdebatkan karena terkait dengan preferensi individu yang ingin membentuk identitas secara subjektif (keinginan) atau objektif (hasil konstruksi sosial).
Referensi :
Fisabilillah (2024). Pakaian sebagai Konstruksi Sosial: Perspektif Sosiologi Modern. Malang: Ediide Infografika.
Mayer, J. (2019). Creating Identity Through Fashion: A Study of Mindful Consumption at Filippa K.
Zarebazakabadi, G. (2019). George Simmel’s Philosophy of Fashion (Conference Paper). Sapienza University of Rome. https://www.researchgate.net/publication/339124470_George_Simmel's_philosophy_of_fashion









Comments