Fashion and Identity: Express Yourself with Cotton On
- Cultural Threads
- Oct 24, 2025
- 4 min read

Berdasarkan buku “Creating Identity Through Fashion: A Study of Mindful Consumption at Filippa K” dalam pandangan Jennifer Mayer (2019) menjelaskan bahwa fashion mempunyai peran yang penting dalam membentuk dan mengekspresikan diri setiap individu. Jennifer Mayer menilai bahwa konsumen di Filippa K menganggap bahwa fashion bukan hanya sekedar tren melainkan sebagai bentuk pengekspresian identitas mereka. Menurutnya, pemilihan fashion konsumen di Filippa K mempunyai kesadaran penuh bahwa mereka sudah terpengaruh oleh tren-tren yang sedang populer, yang kemudian mereka menjadikan fashion sebagai alat untuk menampilkan diri mereka.
Fashion: bukan hanya sekedar melindungi tubuh
Seiring dengan perkembangan zaman, tentunya fashion juga akan mengalami perubahan. Dahulu, fashion hanya dikenali sebatas pakaian yang berfungsi untuk melindungi tubuh. Akan tetapi, di era modern ini fashion dianggap sebagai sebuah tren atau gaya. Tak hanya itu, fashion juga dianggap sebagai sebuah gaya yang dapat mengekspresikan siapa diri kita. Pakaian yang kita kenakan sekarang dapat menunjukan nilai, kelas serta bagaimana kepribadian setiap individu.
Fashion bukanlah sesuatu yang tetap, melainkan (dinamis) terus berubah-ubah seiring dengan perkembangan zaman, tak hanya itu fashion akan terus dibentuk dan dinegosiasikan melalui simbol-simbol budaya seperti pakaian. Terdapat salah satu merek fashion yang dapat mencerminkan identitas anak muda dengan gaya yang casual dan sederhana yaitu “Cotton On”. Tetapi, di balik tampilan yang casual dan sederhana “Cotton On” membawa pesan mengenai kebebasan dan nilai-nilai yang tercermin dalam kehidupan masyarakat urban.
Oleh karena itu, pentingnya mempelajari fashion dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mempelajari fashion kita dapat mengetahui siapa identitas kita, dari mana kita berasal, serta kelompok sosial manakah yang kita ikuti. Setiap pemilihan pakaian yang kita gunakan tidak muncul begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh budaya, ekonomi, dan kelas sosial. Terdapat brand “Cotton On” yang digunakan sebagai Contoh untuk menjelaskan lebih dalam terkait fashion dan identitas dalam konteks masyarakat modern dengan menggunakan beberapa pandangan dari para ahli.

Mengenal “Cotton On”: salah satu fashion yang mencerminkan identitas anak muda
Cotton On fashion global yang berasal dari Australia dan didirikan pada tahun 1991 oleh Nigel Austin di Geelong, Victoria. Brand ini terkenal dengan konsep “casual, comfortable dan affordable fashion” yang menjelaskan bahwa fashion mereka terlihat casual, nyaman dan memiliki harga yang terjangkau (murah). Desain pakaiannya terlihat simpel, sederhana, kasual, modern, serta dapat mencerminkan gaya hidup anak muda di perkotaan (urban). Cotton On memiliki target pasar yakni anak remaja hingga dewasa muda yang ingin tampil simpel namun tetap modis dengan nilai-nilai seperti keaslian, kesederhanaan, dan kebebasan. Brand ini mampu merepresentasikan identitas generasi muda modern yang tetap memiliki nilai kenyamanan, kebebasan, namun tetap terikat dengan budaya konsumsi.
Pandangan para ahli: Fashion dan Identitas
Jennifer Mayer (2019) dalam buku “Creating Identity Through Fashion: A Study of Mindful Consumption at Filippa K” menjelaskan bahwa fashion dipahami sebagai proses pembentukan identitas diri melalui pemilihan pakaian yang mereka gunakan. Hal ini tentunya mencerminkan nilai dan kesadaran pribadi. Jennifer juga menjelaskan seseorang yang menggunakan pakaian secara sadar (mindful consumption) bukan hanya sekedar mementingkan atau memperhatikan penampilan dari luar saja, melainkan juga terdapat beberapa pertimbangan seperti makna, tanggung jawab dan keberlanjutan. Artinya, ketika mereka memilih pakaian bukan hanya soal trend fashion, melainkan melihat bahwa fashion sebagai jati diri mereka. Sehingga apa yang mereka pakai, akan menjadi cara untuk mereka dapat mengekspresikan siapa mereka yang sebenarnya. Tak hanya itu, Jennifer menjelaskan bahwa fashion dapat menjadi bentuk refleksi diri dan bukan hanya sekedar konsumsi. Hal ini menjelaskan identitas yang sesungguhnya terbentuk melalui konsumsi yang sadar dan bukan melalui perilaku konsumtif oleh adanya dorongan dari tren fashion.
Disisi lain terdapat pandangan dari George Simmel (1858-1918) menjelaskan bahwa fashion bukan hanya sekedar gaya dalam berpakaian, melainkan menjadi sebuah fenomena sosial antara individu dengan masyarakat. Menurut Simmel terdapat dua hal yang menjadi dorongan sosial namun saling bertentangan yaitu keinginan untuk membuat pembeda (differentiation) dan keinginan untuk menyesuaikan atau meniru (imitation). Simmel mengatakan bahwa fashion selalu muncul dari kelas atas yang kemudian ditiru oleh kelas bawah. Tetapi, ketika kelas bawah mencoba untuk menjadi sama dengan kelas atas (meniru), maka kelas atas akan selalu mencari fashion baru yang lebih unik untuk membedakan fashion mereka dengan kelas bawah.
Analisis: pandangan ahli terhadap brand Cotton On
Dalam konteks ini, menurut pandangan Jennifer Mayer (2019) jika dikaitkan dengan brand “Cotton On” sebagai salah satu bagian industri fast fashion, mereka memperlihatkan identitas modern dibentuk berdasarkan pemikiran konsumsi dan tren budaya. Namun hal ini bertentangan dengan pandangan Jennifer terkait dengan mindful consumption. Brand ini dalam memproduksi fashion nya berjalan dengan cepat, karena mengikuti perkembangan serta tren yang menjadikan masyarakat menjadi konsumtif (membeli tanpa mempertimbangkan kebutuhan atau jangka panjang, serta memilih tanpa adanya kesadaran) melainkan hanya untuk mengikuti tren dari masa ke masa. Adanya hal ini tentunya bertentangan dengan nilai-nilai Filippa K yang lebih mengutamakan kesadaran dan keberlanjutan.
Sedangkan, menurut pandangan George Simmel (1858-1918) jika dikaitkan dengan brand “Cotton On” teori Simmel sangat relevan, karena brand ini menyediakan beragam pakaian modern dengan harga yang terjangkau (affordable). Adanya hal ini, dapat menarik minat masyarakat untuk meniru (imitation) gaya fashion yang sedang tren. Namun, tren-tren yang ada akan terus berkembang dan mengalami perubahan sehingga mereka akan terus membeli gaya fashion baru secara terus-menerus. Tak hanya itu, dalam teori Simmel dijelaskan bahwa ketika kelas atas memakai sebuah gaya fashion, maka kelas bawah akan selalu meniru kelas atas, namun kelas atas akan terus membuat gaya tren fashion baru untuk menjadi pembeda dengan kelas bawah.
Dari dua pandangan teori George Simmel dan Jennifer Mayer dapat dipahami bahwa pemilihan pakaian seharusnya tidak dijadikan alat untuk mengikuti arus atau perkembangan tren modern, melainkan digunakan untuk mengekspresikan identitas setiap individu. Seiring perkembangan zaman yang semakin modern menghadirkan fast fashion, oleh karena itu setiap individu perlu menerapkan kesadaran akan pentingnya membeli sesuatu dengan bijak, reflektif dan sesuai dengan kebutuhan bukan hanya karena tren.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa fashion bukan hanya berbicara tentang gaya dan tren, melainkan tentang bagaimana identitas individu dapat terbentuk.
Referensi :
Mayer, J. (2019). Creating Identity Through Fashion: A Study of Mindful Consumption at Filippa K.
Zarebazakabadi, G. (2019). George Simmel’s Philosophy of Fashion (Conference Paper). Sapienza University of Rome. https://www.researchgate.net/publication/339124470_George_Simmel's_philosophy_of_fashion.









Comments