top of page

Fashion akan terlihat menarik pada waktunya

  • Writer: Cultural Threads
    Cultural Threads
  • Dec 3, 2025
  • 4 min read

Fashion saat ini bukan hanya soal cara kita berpakaian, melainkan telah menjadi bahasa sosial yang mencerminkan identitas, nilai dan posisi seseorang dalam masyarakat. Setiap tren fashion tidak dapat muncul dengan sendirinya, melainkan dibentuk oleh individu dalam mengekspresikan siapa dirinya. Di sisi lain, keberadaan media dapat membuat tren fashion cepat berubah-ubah. Pada kenyataannya, fashion memang tidak ada habisnya dan akan selalu mengalami perubahan. Mungkin tren saat ini akan mulai tergantikan oleh tren yang baru, namun bukan berarti tren lama akan hilang atau tidak berarti lagi. 


Fashion style / froyonion.com
Fashion style / froyonion.com

Peran media dalam fashion

Media memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan tren fashion. Semua orang dapat mengekspresikan diri mereka melalui media, sehingga media disini dapat dijadikan sebagai alat atau ajang pertunjukan bagi setiap individu. Selain itu, media juga dapat menciptakan tren-tren baru tentang fashion, dimana tren ini muncul ketika seseorang menampilkan dirinya melalui media sosial kemudian dilihat oleh banyak orang yang mungkin menyukai gaya tersebut dan mereka menirunya. Ketika banyak orang mengikuti atau meniru sebuah gaya, maka fashion tersebut dapat dianggap sebagai tren, karena banyak disukai oleh orang lain.


Hubungan fashion, media, dan konsumsi

Fashion seperti yang kita ketahui, saat ini telah menjadi gaya atau rutinitas yang selalu diperhatikan oleh banyak orang. Ketika seseorang akan pergi ke suatu tempat, seringkali berdiri di depan lemari dan merasa kebingungan untuk menggunakan pakaian seperti apa. Hal ini jelas menunjukan bahwa fashion bukan hanya untuk melindungi tubuh, tetapi juga sebagai bentuk pengekspresian dirinya terhadap orang lain. Disisi lain, adanya media dapat menjadi alat dimana seseorang dapat mengunggah gaya fashion yang dikenakan dalam media sosialnya dan dilihat oleh banyak orang. Ketika orang lain melihat gaya tersebut, maka orang itu akan beranggapan bahwa style yang ditampilkan menjadi bentuk ekspresi tentang siapa dirinya. Tak hanya itu, fashion saat ini bukan berbicara tentang kebutuhan untuk menutupi tubuh saja melainkan tentang konsumsi. Artinya, setiap orang yang membeli pakaian bukan karena fungsi nya melainkan karena tren yang sedang populer. Hadirnya media, dapat membuat banyak orang menjadi konsumtif karena mereka berlomba-lomba untuk mengikuti arus perkembangan tren tersebut. Hal ini lah yang menjadikan fashion, media dan konsumsi saling berkaitan. 


Perspektif ahli sosiologi 

Menurut Oswald Spengler (1922) dalam bukunya “The decline of the West” menjelaskan bahwa perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat seperti kehidupan manusia dari dilahirkan, tumbuh dewasa, menjadi tua dan meninggal. Setelah semua siklus tersebut dilewati, semuanya akan kembali pada tahap awal. Artinya, perubahan sosial dan budaya semuanya bergerak atau berjalan secara berulang. Apa yang terlihat sebagai hal baru sebenarnya mempunyai kesamaan dengan peristiwa yang telah terjadi sebelumnya. 


Dalam konteks sosiologi fashion, teori Oswald Spengler digunakan untuk memahami tren fashion melalui tahapan tertentu berdasarkan teori yang sudah dijelaskan, mulai dari fashion lahir, berkembang, lalu populer, kemudian menurun, hingga pada akhirnya digantikan dengan tren yang lain. Meskipun banyak bermunculan tren baru, bukan berarti tren lama hilang melainkan dapat hadir kembali dengan modifikasi yang lebih modern. 


Thrift fashion /  ratudetektif.com
Thrift fashion / ratudetektif.com

Misalnya tren thrifting, dulunya dilakukan karena kebutuhan ekonomis, namun sekarang justru menjadi simbol kepedulian terhadap lingkungan. Menurut pandangan Spengler, hal ini dapat dipahami bahwa fashion tidak pernah benar-benar hilang, tetapi akan selalu kembali dengan membawa jejak masa lalu. Kemudian perubahannya dimaknai ulang oleh generasi baru sesuai dengan kondisi kebutuhan sosial, budaya dan identitasnya. 


Selain perspektif Oswald Spengler, terdapat juga pandangan Agnes Rocamora (2016) yang menjelaskan bahwa media tidak hanya media tidak hanya sebagai alat untuk menampilkan fashion, tetapi juga bagaimana fashion hidup dalam media digital. Menurutnya, fashion tidak hanya pakaian namun juga representasi bagaimana setiap individu membingkai dirinya di ruang publik atau media digital. Jika dikaitkan dengan contoh thrifting, adanya pergeseran makna thrifting sendiri dapat terjadi karena perubahan cara bagaimana ia direpresentasikan di media. Menurutnya, fashion dapat hidup tidak hanya dari pakaian, tetapi dilihat juga dari visualisasi, kurasi dan narasi yang dibangun melalui media digital. Ketika media menampilkan thrifting sebagai produk yang aesthetic, ramah lingkungan, unik, lucu, kreatif, maka citra thrifting dapat berubah. Seperti adanya konten thrift haul, mix and match pakaian bekas, dan kampanye sustainability dapat membuat thrifting terlihat bukan lagi sebagai tindakan seseorang yang kekurangan uang, melainkan sebagai gaya hidup modern yang lebih peduli terhadap lingkungan. Adanya representasi ini dapat mengubah atau menggeser pandangan publik terhadap pakaian thrifting. 


Ilustrasi thrifting / idntimes.com
Ilustrasi thrifting / idntimes.com

Kedua perspektif ini mempunyai keterkaitan satu sama lain terhadap alasan perubahan dari kebutuhan ekonomis menjadi gaya hidup yang lebih modern, dimana Spengler menjelaskan bahwa masyarakat mulai bosan atau jenuh dengan pola konsumsi yang berlebihan (fast fashion) sehingga mereka mulai mencari cara agar menggunakan pakaian yang lebih bermakna, sedangkan Rocamora menjelaskan bahwa adanya media dapat memperkuat dan menyebarkan makna baru tersebut.  Artinya, thrifting dapat kembali menjadi tren karena kedua teori tersebut, ketika orang mulai bosan dengan budaya konsumsi berlebih, maka mereka akan menciptakan citra baru yang menarik melalui media. Maka dari kedua teori ini dapat dilihat bahwa, thrifting bukan hanya bangkit kembali sebagai pilihan yang modern, tetapi juga hadir sebagai gaya hidup yang peduli terhadap lingkungan dan stylish bagi generasi sekarang. 


Dengan demikian, kedua pandangan ahli tersebut menunjukan bahwa perubahan tren dalam fashion tidak terjadi secara tiba tiba, melainkan dipengaruhi oleh dinamika budaya dan cara media membingkai maknanya. Spengler membantu memahami bahwa setiap perubahan gaya atau tren akhirnya akan berujung pada kejenuhan atau bosan, sehingga muncul kebutuhan untuk mencari nilai dan identitas baru. Sedangkan menurut Rocamora, dapat membantu memahami makna sebuah tren dapat semakin kuat dan meluas ketika direpresikan dan dikemas secara visual oleh media.  



Referensi

Rocamora, A. (2016). Mediatization and digital media in the field of fashion. Fashion Theory

Spengler, O. (1922). The decline of the West.



Comments


Top Stories

  • Instagram
  • Facebook
  • Twitter

© 2023 by Sosiologi Fashion. All rights reserved. Powered by NFashionews

bottom of page