top of page

Fast Fashion VS Sustainable Fashion? Pilihan di Tangan Anda!

  • Writer: Cultural Threads
    Cultural Threads
  • Sep 23, 2025
  • 4 min read

Fast Fashion VS Sustainable Fashion? Manakah yang terbaik? /Linkedin (AMHSSC India)
Fast Fashion VS Sustainable Fashion? Manakah yang terbaik? /Linkedin (AMHSSC India)

Pernahkah Anda merasa selalu ingin membeli pakaian dengan model terbaru? Apakah mengikuti tren fashion menjadi suatu keharusan bagi Anda? Apabila iya, Anda telah terjebak dalam lingkaran fast fashion atau pakaian mode cepat. Fast fashion diibaratkan sebagai pakaian ready to wear, yang umumnya selalu berinovasi dan dapat diakses dalam waktu yang cepat dengan harga yang sangat “miring”.


Pernahkah Anda melihat influencer yang membagikan video “ootd check” di laman media sosial? Ketika melihat video tersebut, pastinya kita tertarik untuk memiliki gaya fashion yang sama. Tidak heran bahwa setiap orang, baik di Indonesia hingga mancanegara, bisa saja memiliki fashion yang sama persis. Hal ini yang menyebabkan fast fashion berkembang pesat, karena peran influencer yang secara tidak langsung selalu mendorong kita untuk melakukan impulsive buying atau membeli tanpa perencanaan. 


Fast fashion bukan hanya mempengaruhi gaya hidup, tetapi juga memberikan dampak yang sangat besar bagi lingkungan. Bukan dalam nilai positif, melainkan yang sangat merugikan. Bahkan berpotensi merengut masa depan kita dan generasi mendatang.


Fast Fashion : Fenomena Mengguncang Industri Mode


Brand Fast Fashion/ livealittlemore.in (Callab Jocelyn Pages)
Brand Fast Fashion/ livealittlemore.in (Callab Jocelyn Pages)

Sesuai dengan namanya, fast fashion, kita pasti langsung menebak bahwa istilah ini menggambarkan mode pakaian yang selalu berganti dalam waktu cepat. Proses produksi fast fashion umumnya lebih berfokus pada kuantitas dan kepraktisan dibandingkan kualitas. Brand pakaian seperti H&M, Zara, Shein, yang seringkali kita pakai, ternyata termasuk dalam fast fashion. Berbagai tren fashion diproduksi dalam jumlah yang banyak dengan jangka waktu yang singkat. Tetapi, sangat disayangkan mereka tidak memperhatikan kualitasnya, cenderung menggunakan bahan baku yang berkualitas rendah–aksi tidak bertanggung jawab.


Seperti yang kita tahu, saat ini perusahaan tekstil berlomba-lomba untuk menciptakan tren fashion. Perusahaan menganggap fast fashion sebagai lini bisnis yang menjanjikan karena mampu meraup keuntungan yang besar dengan modal yang cenderung kecil. Fenomena fast fashion ini yang mendorong kita untuk berperilaku konsumtif. Ketika kita melihat model pakaian dari suatu brand yang sesuai dengan tren terkini dan harganya yang terjangkau, pastinya kita langsung tertarik dan membelinya walaupun model pakaian tersebut tidak dapat kita pakai dalam kehidupan sehari-hari. Ini yang menandakan fast fashion mendukung konsumerisme atau gaya hidup yang mementingkan keinginan daripada kebutuhan. 


Tanpa disadari, diri kita sendiri lah yang mendukung pertumbuhan fast fashion. Kita yang selalu membeli pakaian tanpa berefleksi "apakah pakaian ini akan dipakai nantinya atau hanya disimpan saja?" seolah-olah kita dihipnotis oleh tren fashion tanpa memperhatikan lingkungan sekitar–baik atau buruk.


Fast Fashion Menolak Cerminan Etika Industri Mode


 Penumpukan Limbah Tekstil/ Twitter (Highnews Korea)
 Penumpukan Limbah Tekstil/ Twitter (Highnews Korea)

Industri mode selalu memprioritaskan keberlanjutan yang didukung 3 aspek, yaitu lingkungan, ekonomi, dan sosial. Dalam sosiologi, keberlanjutan ialah konsep pemenuhan kebutuhan masyarakat sekarang tanpa mengorbankan generasi mendatang. Etika dalam industri mode berfokus untuk membangun masa depan yang berkelanjutan, tidak hanya bagi pekerja, namun juga untuk lingkungan.


Tapi, fast fashion tidak mencerminkan etika industri mode. Fokusnya yang selalu pada kuantitas, produksi dalam jumlah banyak, bisa meningkatkan penumpukan limbah tekstil. Tren yang cepat berganti diikuti dengan pola konsumsi yang tidak bijak–pakaian dibuang begitu saja.

Bahan baku yang sering digunakan adalah poliester dan pewarna yang sangat berbahaya bagi ekosistem air. Ketika kita mencuci pakaian yang berbahan dasar ini, mikroplastik dan kimia yang terkandung bisa saja terlepas dan mencemari saluran air.


Saat ini, isu tentang kerusakan lingkungan bertambah banyak setiap harinya. Industri mode selalu menjadi sorotan ketika kita berbicara tentang isu lingkungan. UNEP bahkan merilis data dari Yayasan Ellen MacArthur, yang menunjukkan ada sekitar 92 juta ton limbah tekstil secara global–menunjukkan dampak aksi yang tidak bertanggung jawab dari brand fast fashion.


Melihat dampak yang dihasilkan, kita dapat menilai bahwa fast fashion sama sekali tidak mendukung masa depan yang berkelanjutan, menandakan prinsipnya yang tidak selaras dengan etika industri mode.  Sangat disayangkan, brand fashion yang hampir semua dari kita pakai ini justru berpotensi merusak masa depan kita dan generasi mendatang.


Sustainable Fashion : Solusi Ramah Lingkungan


Kerusakan lingkungan akibat fast fashion dapat kita minimalisir dengan beralih ke fashion yang ramah lingkungan atau sustainable fashion. Sesuai dengan namanya, kita dapat sekilas menilai adanya perbedaan di antara keduanya. Sustainable fashion yang mementingkan kualitas dibandingkan kuantitas. Tidak ada gunanya memproduksi dalam jumlah banyak jika tidak diimbangi dengan kualitas.  Kita semua pasti menilai bahwa sustainable fashion adalah mode yang sangat membosankan, hanya mementingkan keselamatan lingkungan. Salah! Pemikiran yang sangat salah tentang konsep sustainable fashion. Sustainable fashion bahkan memiliki tujuan yang sangat unik yaitu menciptakan tren fashion yang mendorong keberlanjutan. Bukan hanya sekedar menarik tapi juga melestarikan lingkungan.


Walaupun brand yang mengusung konsep sustainable fashion tidak sebanyak dan sepopuler brand fast fashion, namun ini sudah menjadi permulaan yang sangat baik. Perusahan-perusahaan mode mulai menyadari dampak dari fast fashion yang akan semakin parah apabila tidak segera beralih ke mode fashion yang ramah lingkungan. Tidak hanya sekedar klaim, melainkan harus menunjukkan aksi nyata. 


Program Mendukung SustainabilityInstagram @sejauh_mata_memandang 


Sejauh Mata Memandang, salah satu brand fashion lokal yang mendukung sustainability–adanya aksi nyata. Brand ini sangat memperhatikan kesejahteraan lingkungan, menggunakan bahan baku yang dapat didaur ulang seperti linen, katun organik, dan tencel. Memiliki misi yang mulia, Sejauh Mata Memandang mendapat penghargaan di JFW 2022 sebagai Dewi Fashion Knights. Tidak sekedar mendapatkan keuntungan, melainkan untuk mengkampanyekan isu pelestarian lingkungan. Tujuan yang mulia dan dikemas dalam mahakarya berhasil membawa Sejauh Mata Memandang ke mancanegara. Prestasi ini menunjukkan bahwa fashion bukan sekedar tren yang merugikan lingkungan. Asalkan adanya pengelolaan yang bertanggung jawab, tren fashion bukanlah masalah.


Memulai Aksi dengan Kesadaran!


Dukungan terhadap sustainability tidak hanya menjadi peran dari perusahaan mode. Harus adanya kesadaran dari diri kita sendiri untuk turut menjaga lingkungan. Semua akan sia-sia ketika tidak diimbangi oleh kedua pihak. Kita harus mempertimbangkan setiap keputusan kita. Apakah kita benar-benar membutuhkan model pakaian ini? Ataukah kita hanya sekedar FOMO dengan tren? Pertimbangan ini yang harus selalu kita pikirkan–jangan gegabah


Saatnya ubah mindset kita! Tidak selalu mementingkan gengsi, melainkan kebutuhan. Apa gunanya kita membeli pakaian yang sedang tren jika tidak berkualitas? Ini yang namanya pemborosan. Selain tentang ekonomi, lingkungan juga menjadi taruhannya. Mulailah dari aksi terkecil! Ada pepatah yang mengatakan : “Sedikit-dikit lama-lama jadi bukit”, artinya Aksi kecil, dampak besar. Apabila kita bersama-sama mendukung sustainable fashion, tujuan akan lebih mudah tercapai yaitu menciptakan masa depan yang berkelanjutan, baik bagi lingkungan, ekonomi, maupun sosial. Kita bisa memulai dengan thrifting–membeli baju bekas yang masih bagus. Penampilan tetap kece, trendy tapi juga peduli pada lingkungan.






 


Comments


Top Stories

  • Instagram
  • Facebook
  • Twitter

© 2023 by Sosiologi Fashion. All rights reserved. Powered by NFashionews

bottom of page