top of page

Bagaimana fashion membentuk kelas sosial?

  • Writer: Cultural Threads
    Cultural Threads
  • Oct 1, 2025
  • 3 min read
Fashion kelas atas / Glam Squad Magazine
Fashion kelas atas / Glam Squad Magazine

Pernahkah kamu mendengar kata fashion? ya, fashion seringkali dimengerti sebagai pakaian. Namun, tahukah kamu? fashion tanpa kita sadari telah menjadi bahasa yang mampu menyampaikan tentang siapa kita. Tidak hanya itu, fashion juga dapat mencerminkan kelas sosial kita.


Fashion sebagai penanda identitas kelas 


Fashion tidak hanya sekedar tren dan berfungsi untuk melindungi tubuh, melainkan telah menjadi penanda identitas dengan adanya tingkatan yang membedakan antara kelas atas (bangsawan) dan kelas bawah (rakyat jelata), kaya atau miskin. Pakaian yang kita kenakan, mulai dari merek hingga gaya kita sehari-hari, seringkali menunjukan kelas sosial kita. Oleh karena itu, fashion bukan hanya tentang fungsi atau gaya-gayaan saja, tapi juga tentang bagaimana kita ingin mengkomunikasikan identitas dan posisi kita di masyarakat. 


Georg Simmel : imitasi dan diferensiasi


Menurut Georg Simmel seorang sosiologi Jerman, ia mempunyai dua pandangan terkait fashion. Ia menjelaskan bahwa seseorang memiliki dua kecenderungan yang berlawanan yaitu, suka meniru orang lain (imitasi) dan membedakan diri dari orang lain agar terlihat unik (diferensiasi). Di satu sisi imitasi terjadi karena keinginan individu meniru orang lain untuk menjadi bagian dari kelompok atau kelas sosial tertentu. Di sisi lain, individu ingin tampil berbeda agar memiliki ciri khas tersendiri yang mencerminkan identitas dirinya. Adanya hal tersebut membuat fashion tidak tetap melainkan selalu mengalami perubahan dan perkembangan dari waktu ke waktu.


Pernahkah kamu berpikir, mengapa seseorang sangat mementingkan fashion dalam kehidupannya? apakah karena ingin diterima di kelompok sosial tertentu? atau hanya ingin mengikuti perkembangan tren saja? lalu, bagaimana cara mereka melakukan imitasi sekaligus diferensiasi?


Hal ini dapat dilihat dari orang-orang yang berada di sekeliling kita. Seperti halnya imitasi dapat terjadi ketika Lala yang berasal dari kelas menengah atau bawah mencoba untuk mengikuti tren atau gaya yang dikenakan oleh Lili yang berasal dari kelas atas. Hal tersebut diikuti oleh Lala hanya karena ingin terlihat setara dengan Lili. Tetapi jika semua tren atau gaya diikuti, maka letak keunikan dan keistimewaannya juga ikut menghilang. Adanya hal tersebut, muncullah diferensiasi, dimana Lili akan mencari gaya baru agar tetap terlihat berbeda dengan Lala. Dengan demikian mode atau gaya lama akan ditinggalkan dan dianggap biasa. 


Tak hanya itu Simmel juga mengatakan bahwa mode akan terus-menerus mengalami perubahan (dinamis) karena terdapat perbedaan keinginan yaitu, keinginan untuk memiliki kesamaan melalui imitasi dan keinginan untuk memiliki perbedaan (diferensiasi) yang dapat dilakukan dengan inovasi. 


Fashion, tren dan perubahan: dalam kehidupan sehari-hari


Fashion terus-menerus mengalami perubahan apalagi di zaman modern seperti sekarang. Perubahan tersebut dapat dilihat dari tingkatan kelas sosial. Biasanya kelas atas disebut sebagai “trendsetter”, artinya mereka yang pertama kali menciptakan dan mempopulerkan tren fashion


Lalu, kenapa hanya kelas atas yang mampu menciptakan tren baru? ya, karena kelas atas memiliki budget (sumber daya) yang berkecukupan, sehingga mereka mampu menciptakan hal baru atau tren-tren fashion yang seringkali ditiru oleh kalangan kelas menengah atau bawah. 


Perkembangan tren tersebut diikuti (imitasi) oleh masyarakat kelas menengah atau bawah, dengan tujuan untuk meningkatkan kelas sosial mereka agar menjadi se-level atau setara dengan kelas atas. Namun, hal tersebut kemungkinan tidak akan terjadi, karena masyarakat kelas atas akan selalu membuat hal baru (inovasi) untuk membedakan dirinya dengan kelas sosial menengah atau bawah. 


Pembentukan identitas melalui fashion : menentukan tingkatan kelas


Fashion sangat penting dalam proses pembentukan identitas setiap individu. Setiap individu yang berada di kelas atas memiliki kecenderungan untuk menjadi konsumtif terhadap fast fashion. Hal ini karena adanya tren atau gaya yang terus-menerus mengalami perubahan yang menjadikan mereka terus melakukan inovasi untuk menciptakan perbedaan antara kelas atas dan kelas menengah atau bawah. Misalnya, seseorang yang berada di kelas atas cenderung membeli fashion yang mewah atau branded (bermerek) dengan harga yang mahal. Hal tersebut dilakukan hanya untuk mempertahankan kelas mereka. Sementara seseorang yang berada di kelas menengah atau bawah cenderung membeli fashion yang affordable, tidak terlalu memperhatikan merek, namun tetap memiliki kesamaaan dengan kelas atas serta memiliki kualitas yang oke.


Adanya fenomena fast fashion, jika terus-menerus dilakukan akan menimbulkan kekhawatiran. Perkembangan yang cepat serta konsumsi yang berlebihan, dapat mengurangi makna dan nilai simbolis dari fashion tersebut. Tidak hanya itu, fenomena ini juga akan mempengaruhi kemampuan setiap individu dalam mengekspresikan identitas mereka.


Dengan memahami teori Simmel, kita dapat menyadari bagaimana peran fashion dalam masyarakat. Setiap pakaian yang kita pilih dan kita gunakan, tentunya akan mencerminkan identitas dan kelas sosial kita. Alangkah baiknya sebelum mengikuti tren, sangat penting untuk mempertimbangkan nilai dan makna apa yang ingin kita sampaikan melalui fashion tersebut. Tak hanya itu teori Simmel juga memberikan pemahaman terkait imitasi dan diferensiasi. 


Di era sekarang, keterkaitan fashion dengan kelas sosial menjadi sangat kompleks. Oleh karena itu, marilah kita menggunakan fashion (pakaian) tidak hanya sebagai tren, tapi juga mengandung makna — bukan hanya untuk diri kita, melainkan juga bagi orang lain yang melihatnya.





Comments


Top Stories

  • Instagram
  • Facebook
  • Twitter

© 2023 by Sosiologi Fashion. All rights reserved. Powered by NFashionews

bottom of page