Greenwashing Shein: Label Ramah Lingkungan di Balik Produksi Massal
- Cultural Threads
- Dec 5, 2025
- 3 min read
Updated: Dec 20, 2025
Blog ini ditulis untuk memahami fenomena greenwashing dalam industri fashion melalui studi kasus Shein, sekaligus mendorong konsumen agar lebih kritis terhadap klaim ramah lingkungan yang sering digunakan sebagai strategi pemasaran.
Dalam industri fashion, terutama fast fashion, greenwashing menjadi masalah besar karena sejumlah merek menggunakan tren konsumsi sadar lingkungan untuk meningkatkan citra. Sementara model bisnis utama mereka bergantung pada produksi massal yang cepat, murah, dan seringkali tidak ramah lingkungan atau etis.
Dalam hal ini, salah satu merek fashion yang paling sering dikritik adalah Shein. Merek pakaian ini berkembang cepat, terutama di kalangan remaja karena harganya yang terjangkau dan pilihan produk yang beragam. Namun, Shein mendapatkan tudingan greenwashing seperti pemasaran yang menciptakan kesan berkelanjutan tetapi tidak melakukan apa-apa untuk mengubah dampak lingkungan.
Pembahasan
1. Model Bisnis Shein yaitu Ultra-Fast Fashion
Kemampuan Shein untuk memproduksi ribuan desain baru setiap hari dan bergantung pada tren mikro dan konsumsi cepat membuatnya disebut sebagai "ultra-fast fashion", sebuah istilah yang tepat untuk merek fast fashion. Model ini mendorong pembelian berulang dan pembuangan pakaian dalam waktu singkat, yang tidak berkelanjutan karena:
Produksi massal bahan sintetis, seperti poliester, yang sulit didaur ulang dan mengeluarkan mikroplastik
Tingginya emisi gas rumah kaca sebagai akibat dari produksi dan distribusi barang di seluruh dunia
Volume limbah tekstil yang besar karena pakaian dibuang dengan cepat.
2. Klaim “Sustainable” vs Realitas menjadi Bukti Greenwashing
Shein telah membuat beberapa klaim ramah lingkungan, termasuk penggunaan polyester daur ulang dan teknologi yang dikatakan menghemat air. Namun, kritik mengatakan:
Klaim tersebut seringkali tidak transparan atau tidak berdampak besar karena hanya mencakup bagian kecil dari seluruh proses produksi
Tujuan sustainable Shein terbilang rendah dan lama. Sebagai contoh yang dikutip dari greenmemag.com “Recycled polyester remains problematic, especially as it makes up the vast majority of Shein’s products, which are disposable. These items pollute both during production and disposal. Setting a 31% target by 2030 is laughably low.” Dengan demikian, skala produksi Shein lebih kecil daripada target 31% polyester daur ulang pada 2030,
Berbagai otoritas di Eropa menemukan bahwa klaim keberlanjutan tidak jelas, menipu, atau tidak dapat dibuktikan.
3. Shein Dikritik dan Didendak Karena Greenwashing
Komisi Persaingan Italia (AGCM) menemukan bahwa klaim lingkungan berpotensi menyesatkan pelanggan karena tidak disertai dengan informasi yang jelas dan proporsional dengan volume produksi. Shein menerima denda sekitar €1 juta atau lebih dari Rp50 miliar sebagai akibatnya. Dikutip dari financialexpress.com “based fast-fashion mammoth Shein is under fire by the Italian regulator AGCM. Almost synonymous with the name “fast fashion”, the online-founded retail platform was fined €1 million for misleading products on environmental grounds.” Hal ini mendukung kritik bahwa klaim hijau Shein lebih berfokus pada pencitraan daripada mengatasi masalah lingkungan yang terjadi di industri fashion, seperti penggunaan bahan sintetis, emisi karbon, dan limbah tekstil.
Kesimpulan
Kasus Shein menunjukkan bahwa industri fashion tidak selalu sejalan dengan klaim sustaineble. Meskipun Shein memberikan komitmennya terhadap lingkungan, klaim tersebut belum mampu mengimbangi dampak besar dari gaya fashion yang sangat cepat yang bergantung pada konsumsi cepat, produksi massal, dan tingkat limbah tekstil yang tinggi. Hukuman yang dijatuhkan oleh pemerintah Italia adalah bukti bahwa klaim hijau dapat dianggap sebagai greenwashing jika tidak ada transparansi dan perubahan struktural.
Fenomena ini menunjukkan betapa pentingnya regulasi untuk memantau perusahaan tentang hal-hal yang berkaitan dengan lingkungan. Hal ini juga mengingatkan konsumen untuk lebih memperhatikan label "sustainable" atau "eco-friendly". Untuk mewujudkan keberlanjutan yang benar, tidak cukup melakukan kampanye atau inisiatif tertentu. Sebaliknya, transformasi menyeluruh pada pola konsumsi, rantai pasok, dan model bisnis diperlukan.
Referensi










Comments