top of page

"Mengenal Diri Lewat Pakaian: Bagaimana Fast Fashion Bisa Mempengaruhi Kepercayaan Diri"

  • Writer: Cultural Threads
    Cultural Threads
  • Sep 23, 2025
  • 2 min read

Gambar 1
Gambar 1

Taukah kamu…

Sekitar 66% masyarakat dewasa Indonesia membuang setidaknya satu pakaian dalam setahun. Sekitar 25% lainnya membuang lebih dari 10 pakaian dalam setahun. Sebanyak 41% millennials Indonesia adalah konsumen produk fast fashion terbesar. Artinya, orang Indonesia biasanya membeli banyak pakaian, memakainya hanya sebentar, lalu membuangnya. Faktor-faktor seperti produksi cepat, harga murah, siklus tren singkat, dan prilaku konsumtif merupakan cerminan dari fash fashion. Fashion berkembang dengan cepat karena dianggap bukan hanya sebagai kebutuhan pakaian, tetapi juga mencerminkan identitas. Pakaian menjadi sarana untuk menampilkan siapa diri kita, termasuk nilai moral, kelas sosial, tingkat ekonomi dan preferensi budaya. Selain itu, fashion juga sebagai simbol kepercayaan diri, orang yang mengenakan pakaian yang sesuai dengan tren, terlihat unik, atau dianggap "berkelas" merasa lebih percaya diri.

Di lingkungan kampus saya, tren fashion seakan berubah setiap bulan. Mahasiswa dengan outfit kasual sederhana sering dianggap easy-going, sementara mereka yang tampil rapi dengan blazer atau dress kerap dianggap lebih serius. Ada juga kelompok mahasiswa yang suka dengan gaya unik mix and match vintage dengan streetwear yang mencerminkan semangat kebebasan berekspresi. Saya pun pernah merasa bingung: apakah saya berpakaian untuk diri saya sendiri, atau agar sesuai dengan ekspektasi sosial di sekitar saya? Saat melihat teman-teman saya mengenakan outfit baru, saya pernah merasakan "takut ketinggalan tren". Fashion ternyata bukan hanya soal pakaian tetapi juga menggambarkan identitas kita serta mencakup persepsi sosial kita dan apa yang kita kenakan.

Gambar 2
Gambar 2

Sosialolog menganggap fashion sebagai identitas dan bukan hanya produk yang kita kenakan. Apa yang kita kenakan dapat menunjukkan tingkat ekonomi, kelas sosial, gender, profesi atau bahkan nilai-nilai yang kita yakini. Ketika seseorang memilih baju bermerek, itu berkaitan dengan status dan pengakuan yang mereka peroleh. Sebaliknya, thrifting dianggap perlawanan terhadap konsumerisme dan kesadaran akan lingkungan yang berkelanjutan.

Data dari BoF Insights (2022) menunjukkan bahwa 82% generasi Z menganggap fashion sebagai cara utama untuk menunjukkan identitas mereka. Tidak mengherankan bahwa akun media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh OOTD (Outfit of the Day), yang berfokus pada gaya dan identitas mereka. Sebaliknya, tren fast fashion menyebabkan pakaian yang sama dibuat dalam jumlah besar dan dijual dengan harga murah, sehingga identitas yang ingin ditampilkan terkadang menjadi sama satu dengan yang lain.

Fashion adalah bagian dari identitas. Setiap pakaian yang kita pilih mencerminkan diri kita, terlepas dari apakah kita menyadarinya atau tidak. Pertanyaannya adalah, apakah kita benar-benar berpakaian untuk diri kita sendiri atau untuk menarik perhatian orang lain? Saat kita memilih pakaian, mungkin kita harus bertanya-tanya “Apakah pakaian ini mencerminkan diri saya yang sebenarnya? Nilai apa yang ingin saya tunjukkan lewat pakaian saya? Apakah fashion yang saya pilih membuat saya merasa terikat atau bebas karena ekspektasi sosial?”Karena fashion pada akhirnya adalah tentang menemukan identitas kita sendiri di balik pakaian yang kita kenakan, bukan hanya mengikuti tren.

 

Daftar Pustaka

Nafauziyya, H. A. (2024). Fenomena Fast Fashion Waste: Meninjau Pendekatan Ekonomi Sirkular dalam Industri Tekstil. https://ekonomisirkular.id/newsideas/fenomena-fast-fashion-waste%3A-meninjau-pendekatan-ekonomi-sirkular-dalam-industri-tekstil?utm_source=chatgpt.com  

Comments


Top Stories

  • Instagram
  • Facebook
  • Twitter

© 2023 by Sosiologi Fashion. All rights reserved. Powered by NFashionews

bottom of page