“Gaya Hijab Sabrina” hasil Diferensiasi Kelas & Proses Sosial Kolektif
- Cultural Threads
- Oct 14, 2025
- 2 min read
Video menampilkan seorang Perempuan berhijab yang menggunakan dress panjang berwarna krem dengan model sabrina. Selain itu, perempuan dalam video juga menggunakan iner untuk menutupi dada dan hijab berwarna abu-abu muda yang dililit rapih. Aksesori yang digunakan yaitu gelang berwarna gold seperti menambah kesan mewah.
Gaya ini mencerminkan kepribadian perempuan muda modern yang percaya diri, modis, dan tetap berpakaian sopan.
Fashion sebagai diferensiasi kelas oleh Simmel dan Bourdieu
Simmel menekankan bahwa fashion berasal dari konflik antara kebutuhan untuk membedakan diri dari kelas bawah dan keinginan untuk meniru kelas atas.
Bourdieu menambahkan konsep taste (selera), yang berasal dari modal kultural, yang membentuk gaya berpakaian yang sesuai dengan kelas sosial.
Dalam video, gaya hijab sabrina moderen mewakili dinamika sosial yang dijelaskan oleh Simmel dan Bourdieu. Pilihan gaya yang menggabungkan kesopanan religius dengan estetika modern menunjukkan adanya modal kultural. Dengan kemampuan untuk memahami dan menyesuaikan, sehingga dapat membuat pilihan yang sesuai dengan norma dan kebutuhan sosial. Selain itu, tindakan meniru gaya dari referensi dalam video juga menunjukkan diferensiasi dalam fashion, yaitu dengan keinginan untuk meniru kelas atas. Dengan demikian, seseorang dapat menunjukkan identitasnya, menunjukkan status sosialnya, dan menyesuaikan diri atau bahkan menentang standar budayanya agar terlihat seperti referensi yang ditirunya.
Fashion sebagai Proses Sosial Kolektif
Menurut Herbert Blumer, fashion terbentuk melalui seleksi kolektif, atau kesepakatan sosial tentang apa yang dianggap modis pada masa itu. Bukan hanya pengaruh kelas atas yang menyebabkan gaya seperti ini muncul, tetapi juga ada kesepakatan sosial di kalangan kelas bahwa.
Teori Herbert Blumer bahwa fashion lahir dari proses seleksi kolektif, tercermin dalam gaya hijab sabrina yang digambarkan dalam video. Influencer, konsumen, dan komunitas online aktif mempengaruhi standar fashion melalui media sosial. Oleh karena itu, fashion telah berubah menjadi ruang partisipatif dimana masyarakat saling berkontribusi untuk menentukan tren. Hal ini menunjukkan bahwa fashion saat ini merupakan hasil dari diskusi sosial antara identitas, budaya, dan modernitas.
Refleksi Kritis
Video ini menunjukkan bahwa fashion bukan lagi sekadar tren, melainkan cara untuk mengekspresikan diri, identitas, dan pandangan yang lebih beragam tanpa terikat aturan. Gaya hijab sabrina moderen bukan sekadar simbol religiusitas, tetapi juga menunjukkan kelas, keinginan, dan kesadaran estetika generasi muda muslimah.
Secara keseluruhan, gaya hijab sabrina modern merupakan hasil interaksi antara struktur sosial dan dinamika kolektif. Dari perspektif Simmel dan Bourdieu, gaya ini menjadi simbol status dan modal kultural yang mencerminkan usaha individu menegaskan kelas sosial melalui selera berpakaian. Sementara dari pandangan Blumer, tren tersebut terbentuk melalui kesepakatan sosial dan partisipasi kolektif di ruang digital. Dengan demikian, fashion tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi pribadi, tetapi juga sebagai proses sosial yang menghubungkan identitas, kelas, dan budaya dalam masyarakat modern yang terus berkembang.
Ada perlunya berpikir kritis tentang hal ini: Apakah gaya ini benar-benar representasi kebebasan atau bentuk baru dari tekanan sosial untuk tampil "ideal"?









Comments