top of page

"Dari Tren Streetwear ke Budaya Imitasi Digital"

  • Writer: Cultural Threads
    Cultural Threads
  • Oct 7, 2025
  • 2 min read

Dalam video tersebut, menampilkan perempuan muda tampil percaya diri dengan pakaian streetwear. Model dalam video menggunakan kemeja oversized, jersey, tanktop, beggy jeans, dan sneakers, serta aksesori seperti tas, kacamata, topi, gelang dan kalung rantai. Gaya ini menggambarkan suasana nyaman, bebas, dan penuh ekspresi diri yang khas dari budaya jalanan.


Di video kedua, terlihat 5 perempuan muda yang sedang melakukan outfit chek. Mereka terlihat menggunakan beggy jeans dan sneakers. Salah satunya menggunkan tanktop dan yang lain menggunkan crop top. Dilengkapi dengan aksesoris seperti ikat pinggang, kacamata dan kalung rantai.


Teori Imitasi Simmel

Georg Simmel mengatakan bahwa dua yang hal mendorong perubahan fashion yaitu, keinginan untuk meniru (imitasi) dan keinginan untuk membedakan diri (diferensiasi).


Simmel berpendapat bahwa cara seseorang mencari tempat dalam masyarakat adalah dengan meniru gaya masyarakat tersebut. Dengan mengenakan gaya tertentu, seseorang tidak hanya meniru, tetapi juga berusaha "masuk" dan menjadi bagian masyarakat tersebut.

 

Refleksi Kritis

Video menunjukkan influencer dan kreator menjadi representasi kelas "atas" dalam hal pengaruh. Jika seorang influencer atau kreator dengan banyak pengikut mempopulerkan gaya tertentu, audiens akan menirunya untuk mendapatkan rasa terhubung dan diterima secara sosial.


Begitu tren ini tersebar luas dan semua orang meniru gaya yang sama, muncul dorongan baru untuk tampil sedikit berbeda seperti mengganti warna, aksesori, atau merek agar terlihat unik dan berbeda. Dengan demikian, muncul variasi gaya baru, seperti streetwear minimalis, vintage, atau campuran merek lokal yang kini populer di Indonesia (seperti video ke 2). Fenomena ini menunjukkan bahwa fashion di media sosial merupakan jenis imitasi sosial yang terus-menerus. Dimana influencer menciptakan gaya, audiens menirunya, dan ketika tren mulai viral maka muncul gaya baru.


Dari pembahasan di atas, relevansi fashion khususnya streetwear, merupakan cara anak muda mengekspresikan diri dan mencari identitas di era digital. Gaya berpakaian di media seperti TikTok bukan hanya tentang "apa yang dipakai" tetapi juga tentang bagaimana seseorang ingin dilihat dan diterima oleh masyarakat. Seperti yang dikatakan Simmel, fashion hidup karena manusia ingin sama dan berbeda. Oleh karna itu fashion selalu berubah. Dengan kata lain, gaya streetwear menunjukkan hubungan antara tren, imitasi, dan identitas. Dimana orang meniru gaya populer agar dianggap keren, tetapi juga berusaha tampil sedikit berbeda agar tetap unik.

Comments


Top Stories

  • Instagram
  • Facebook
  • Twitter

© 2023 by Sosiologi Fashion. All rights reserved. Powered by NFashionews

bottom of page