top of page

Outfit Anak Sultan vs Anak Kos Sebagai Penanda Kelas Sosial

  • Writer: Cultural Threads
    Cultural Threads
  • Dec 4, 2025
  • 2 min read



Sumber Instagram Nusantarafit
Sumber Instagram Nusantarafit

Di media sosial, istilah “anak sultan” dan “anak kos” sering dipakai buat bedain kelas sosial secara halus. Bukan cuma soal uang jajan atau tempat tinggal, tapi juga kelihatan dari cara berpakaian. Dari sepatu yang dipakai sampai tas yang dibawa, semua seakan jadi kode tentang “dia ini golongan mana”.

Anak sultan biasanya identik dengan outfit serba branded. Hoodie dari brand luar, sneakers yang sering muncul di konten review, tas kecil yang harganya bisa setara uang kos beberapa bulan. Pakaian mereka sering terlihat simpel, tapi kualitas bahan dan logo yang menempel langsung memberi sinyal kelas sosial yang lebih tinggi.

Sebaliknya, anak kos hidup dengan lemari sederhana. Isi baju terbatas, tapi harus cukup untuk kuliah atau kerja, nongkrong, dan kadang kondangan. Kaos polos, jeans andalan, jaket thrift, dan sneakers lokal jadi senjata utama. Mereka jarang beli baju, jadi belajar kreatif: satu pakaian dipakai dengan banyak cara supaya tetap kelihatan beda.

Di sinilah fashion berfungsi sebagai bahasa visual. Orang cepat menilai hanya dari tampilan: tas mahal dianggap tanda “anak berada”, sementara tas biasa langsung diasosiasikan dengan kelas menengah ke bawah. Padahal, tas mahal bisa saja hasil nabung lama, dan kaos polos sederhana bisa saja dari brand mahal yang desainnya minimalis. Tekanan sosial pun muncul dari dua arah. Anak sultan sering dianggap selalu “pamer”, padahal kadang mereka hanya memakai apa yang memang sudah ada di lemari. Anak kos bisa merasa minder karena tiap buka media sosial yang muncul adalah outfit mewah yang rasanya mustahil diikuti. Fashion bukan lagi sekadar kebutuhan, tapi juga cara orang berusaha “naik kelas” secara simbolik.

Ketika anak sultan dan anak kos duduk satu meja, perbedaan kelas sosial pertama kali terlihat dari outfit. Namun, setelah ngobrol, ternyata masalah mereka tidak jauh beda tugas menumpuk, kerjaan capek, dan sama-sama mikir masa depan. Perbedaan tetap ada, tapi jadi terasa lebih kompleks daripada sekadar mahal dan murah.

Pada akhirnya, outfit memang bisa jadi penanda kelas sosial, tapi tidak harus jadi alat untuk merendahkan. Fashion anak sultan dan anak kos sama-sama sah sebagai cara mereka menyesuaikan diri dengan kondisi hidup masing-masing. Yang penting, di balik semua label dan logo, kita ingat bahwa nilai seseorang tidak berhenti di baju yang ia pakai

Kesimpulannya, fashion memang dekat dengan kelas sosial karena kemampuan ekonomi menentukan seberapa banyak dan seberapa mahal seseorang bisa membeli pakaian. Namun kelas sosial seharusnya tidak jadi ukuran utama untuk menilai seseorang. Outfit hanya menunjukkan posisi sosial di permukaan, sedangkan karakter, sikap, dan cara memperlakukan orang lain adalah “kelas” yang sebenarnya.

Comments


Top Stories

  • Instagram
  • Facebook
  • Twitter

© 2023 by Sosiologi Fashion. All rights reserved. Powered by NFashionews

bottom of page