Estetika Influencer Antara Kebebasan dan Tekanan Kapitalisme "Ironi Modernis"
- Cultural Threads
- Dec 4, 2025
- 4 min read

Coba bayangin momen paling santai kamu rebahan, buka Instagram atau TikTok, lalu jempol jalan sendiri. Dalam beberapa detik, muncul deretan outfit, foto di coffee shop, mall, atau kamar estetik dengan cermin besar, semua kelihatan biasa, seolah cuma soal baju dan gaya. Tapi kalau dilihat lebih pelan, fashion di dunia digital ini sebenarnya lagi menunjukkan sesuatu yang jauh lebih dalam ironi tentang cara kita hidup di zaman modern.
Elizabeth Wilson menyebut konsep “ironi modernis” untuk menggambarkan kondisi ini. Dunia modern menjajikan banyak hal kebebasan, kemajuan, kesempatan jadi diri sendiri. Namun di kenyataannya, hidup kita justru penuh kontradiksi (kenyataan berbeda dengan perkataan). Kita diajak tampil unik, tapi ditekan untuk ikut tren, kita menikmati keindahan, tapi sering lupa ada sisi gelap di baliknya. Fashion, apalagi di media sosial, adalah panggung utama tempat semua kontradiksi itu kelihatan jelas.
Kalau kita lihat fashion digital di Indonesia, terutama estetika influencer, contoh konkretnya banyak. Salah satu figur yang sering dibahas adalah Awkarin. Ia dikenal sebagai selebgram dan content creator dengan gaya visual yang kuat outfit berbeda-beda, foto estetik, dan image yang selalu menarik perhatian. Tapi di sisi lain, Awkarin juga pernah secara terbuka menyebut media sosial sebagai sesuatu yang “toxic” dan berpotensi mengganggu kesehatan mental anak muda. Ia bahkan terlibat dalam kampanye dan platform seputar isu kesehatan mental, menyoroti tekanan di balik dunia digital yang terlihat glamor.
Di sini ironi mulai terlihat jelas. Di satu sisi, fashion dan estetika influencer memberi ruang untuk kebebasan ekspresi. Lewat pakaian, pose, dan gaya foto, mereka membangun identitas: “ini gue, ini style gue”. Para pengikut merasa terinspirasi, merasa boleh tampil sesuai kepribadian, dan tidak lagi terikat pada standar lama yang kaku. Tapi kalau kita lihat feed banyak influencer, termasuk yang bergaya “unik”, polanya mirip tone warna serupa, brand yang sama, jenis outfit yang mirip, bahkan pose yang hampir copy paste.
Fashion digital juga mengandung kontradiksi antara keindahan dan eksploitasi. Foto-foto terlihat indah, bersih, dan terkonsep. Namun di balik satu postingan, ada kerja panjang memikirkan konsep, gonta-ganti outfit, foto berkali-kali, memilih satu yang terbaik, lalu mengedit supaya cocok dengan warna feed. Pekerjaan ini memang kreatif, tapi juga melelahkan dan penuh tekanan angka likes, views, komentar, dan insight lain yang jadi ukuran “berhasil” atau tidaknya sebuah konten. Penelitian tentang influencer fashion juga menegaskan bahwa tugas utama mereka adalah memproduksi konten visual yang menarik sekaligus mendorong orang membeli produk yang dipromosikan.
Belum lagi soal rantai produksi. Banyak item fashion yang muncul di layar, entah itu pakaian, tas, atau aksesoris, berasal dari industri fast fashion dengan masalah lingkungan dan ketenagakerjaan. Di permukaan kita melihat gaun cantik dengan diskon menarik di belakangnya ada buruh, limbah, dan eksploitasi yang jarang masuk frame. Ini bagian lain dari ironi modern keindahan visual dibangun di atas sesuatu yang sering kali tidak indah sama sekali.
Kontradiksi berikutnya adalah kebebasan versus disiplin. Dari luar, hidup influencer terlihat sangat bebas. Mereka tidak duduk di kantor 9–5, bisa kerja dari mana saja, dan memilih sendiri gaya yang mereka tampilkan. Namun mereka juga terikat oleh disiplin ketat harus konsisten posting, menjaga citra, mengikuti tren audio dan challenge, serta menyesuaikan konten dengan keinginan brand. Tubuh, wajah, dan gaya hidup mereka menjadi semacam “etalase berjalan” yang harus selalu siap ditampilkan. Di sini, fashion bukan lagi hanya pakaian, tapi juga bentuk kontrol halus terhadap diri sendiri.
Pertanyaannya, apakah fashion digital dan estetika influencer bisa dianggap mengkritik kapitalisme modern, atau justru memperkuatnya? Kadang kita melihat upaya kritis ada yang bicara soal pentingnya pakai brand lokal, atau ajakan lebih bijak belanja. Awkarin, misalnya, dengan menyoroti dampak buruk media sosial terhadap kesehatan mental, secara tidak langsung mengajak orang untuk lebih sadar dan tidak tenggelam dalam standar palsu yang dibangun layar.
Namun, di saat yang sama, hampir semua influencer mau tidak mau beroperasi dalam sistem kapitalis yang sama. Setiap OOTD bisa sekaligus menjadi iklan setiap “cuma sharing outfit” bisa punya link affiliate dan kode voucher. Kritik terhadap konsumerisme sering muncul berdampingan dengan kampanye belanja. Akhirnya, fashion digital lebih sering berperan sebagai cara yang sangat cantik dan halus untuk menjual barang, gaya hidup, dan mimpi.
Semua ini mengungkap banyak hal tentang masyarakat modern, khususnya di Indonesia. Kita hidup di zaman ketika identitas sangat bergantung pada visual. Siapa kita, sering disingkat jadi apa yang terlihat di feed pakaian, tempat nongkrong, dan estetik foto. Kita juga hidup di tengah tarik-menarik antara keinginan untuk benar-benar jadi diri sendiri dan rasa takut ketinggalan tren. Dengan mengikuti gaya influencer, kita merasa bebas memilih, padahal pilihan itu sudah dipersempit oleh brand, dan selera pasar.
Di titik inilah fashion berfungsi sebagai ironi modernis di permukaan ia terlihat sebagai ruang main dan ekspresi, tapi sekaligus menjadi alat reproduksi sistem yang itu-itu lagi. Ia menjanjikan kebebasan, namun bekerja melalui kontrol yang halus. Ia menawarkan keindahan, namun menutupi banyak bentuk ketidakadilan. Contoh kasus para influencer seperti Awkarin membantu kita melihat bahwa di balik foto outfit yang rapi, ada pergulatan antara diri, pasar, dan tekanan sosial yang tidak selalu tampak.
Bukan berarti influencer adalah “tokoh jahat” dalam cerita ini. Mereka juga korban dan pelaku dalam sistem yang sama. Justru dengan menyadari ironi ini, kita sebagai penonton bisa lebih kritis tidak menelan mentah-mentah standar yang muncul di layar, tidak merasa harus selalu ikut, dan berani bertanya apakah fashion yang kita pakai benar-benar milik kita atau hanya hasil copy dari apa yang kapitalisme tampilkan sebagai “gaya ideal” hari ini









Comments