"CALLE" Streetwear Sebagai Cermin Kelas dan Identitas Cair di Era Generasi Muda Indonesia
- Cultural Threads
- Oct 8, 2025
- 4 min read

Brand CALLE merupakan label lokal yang berakar kuat pada budaya streetwear dan urban lifestyle. Dari visual unggahan Instagram CALLE, terlihat sangat estetika yang tegas, dan berani yang menonjolkan outfit seperti oversized t-shirt, baggy pants, hoodie, hingga jersey bola dengan logo besar bertuliskan CALLE. Dengan warna yang sering digunakan yaitu hitam, putih, merah, dan kuning mencerminkan semangat kebebasan serta energi anak muda.

Dalam beberapa unggahan, model tampil dengan pose santai namun penuh attitude, mengenakan aksesori seperti kalung rantai, masker, dan sneakers besar. Latar foto pun dominan tembok bata ekspos, tangga beton, jalanan kota, hingga suasana crowd komunitas jalanan. Semua elemen ini membentuk narasi visual bahwa CALLE bukan sekadar pakaian, tetapi simbol gaya hidup jalanan (street culture) yang otentik dan rebel.
Target audiens CALLE jelas anak muda berusia 18–30 tahun yang hidup di perkotaan, mengikuti tren street culture, dan memiliki aspirasi untuk tampil autentik, keren, serta berkarakter. Mereka adalah generasi yang tumbuh dengan TikTok, rap, dan generasi yang menjadikan fashion sebagai ekspresi diri sekaligus bentuk perlawanan halus terhadap norma-norma.
Dalam perspektif Georg Simmel, fashion berfungsi sebagai mekanisme sosial untuk membedakan diri (diferensiasi) sekaligus meniru (imitasi). Fashion selalu bergerak dari kelas atas ke kelas bawah kelas elit menciptakan gaya baru untuk menunjukkan statusnya, dan ketika kelas bawah mulai meniru, gaya itu kehilangan eksklusivitasnya.
Namun, pada konteks CALLE, proses ini mengalami pembalikan. Streetwear lahir dari kelas bawah atau kelas pekerja urban, lalu diadopsi dan dikomodifikasi oleh kelas menengah dan atas. Fenomena ini membalik struktur yang dulu dianggap “subkultur jalanan” kini justru menjadi simbol status baru. Mengenakan CALLE tidak hanya menandakan gaya kasual, tapi juga pemahaman terhadap tren global dan budaya jalanan.
Menurut Pierre Bourdieu, apa yang kita pakai mencerminkan selera yang dikonstruksi oleh posisi sosial kita dalam struktur masyarakat. CALLE menjadi simbol “selera baru” dari kelas menengah urban yang ingin menunjukkan pembeda bukan lewat kemewahan formal, tapi lewat “pengetahuan terhadap budaya jalanan”. Artinya, memakai CALLE adalah bentuk untuk menunjukkan identitas bahwa pemakainya bukan hanya punya daya beli, tetapi juga dapat mengekspresikan diri dengan tulus.
Dalam konteks Thorstein Veblen, fenomena ini bisa disebut sebagai bentuk konsumsi untuk menunjukkan gaya hidup tertentu. Meski secara ekonomi pakaian CALLE tidak sekelas luxury brand, namun nilai simboliknya tinggi. Kaos dengan logo besar “CALLE” berfungsi sebagai statement item yang menunjukkan afiliasi sosial dan budaya. Mengenakannya adalah cara menunjukkan “aku tahu trend, aku bagian dari komunitas itu.”
Dengan demikian, CALLE tidak hanya berperan sebagai produk fashion, tetapi juga alat simbolik untuk membentuk status kultural baru di kalangan muda urban Indonesia, status yang tidak ditentukan oleh kekayaan material semata, melainkan oleh akses terhadap tren, komunitas, dan pengetahuan akan budaya global yang diadaptasi secara lokal.
Menurut Fred Davis, fashion selalu bersifat ambivalen dan cair ia merepresentasikan psikologis manusia. Dalam setiap gaya berpakaian, selalu ada ketegangan antara dua kutub makna maskulin vs feminin, konvensional vs pemberontak, individu vs kolektif, tradisi vs modernitas.

CALLE dengan sangat jelas merepresentasikan ambivalensi (sifat ganda) ini. Di satu sisi, gaya streetwear-nya menonjolkan kekuatan, dan ketegasan, terlihat dari model yang berpose dengan ekspresi serius, pakaian longgar, hingga penggunaan elemen seperti anjing doberman atau masker hitam yang memberi kesan dominan dan agresif. Namun di sisi lain, ada ekspresi kreativitas, kebebasan, dan inklusivitas, di mana fashion tidak lagi terikat oleh kelas sosial atau gender. Semua orang, dari berbagai latar belakang, bisa mengekspresikan dirinya lewat CALLE.
Ambivalensi (sifat ganda) lain muncul antara global vs lokal. Desain dan estetikanya jelas terinspirasi dari street culture global, misalnya gaya rapper Amerika, kultur hip-hop, hingga jersey bola internasional. Namun, identitasnya tetap lokal diproduksi oleh anak muda Indonesia, dengan narasi dan komunitas lokal yang kuat. Ini menunjukkan bahwa fashion modern bersifat hibrid, mencampur nilai global dengan akar lokal. Dalam pandangan Davis, fashion juga menjadi sarana identitas yang cair di mana individu bisa dengan mudah berpindah peran sosial. Pemakai CALLE bisa menjadi mahasiswa, kreator, rapper, atau bahkan pekerja kantoran , semuanya bisa memakai pakaian yang sama namun memaknainya berbeda. Di sinilah fashion berfungsi sebagai bahasa simbolik yang fleksibel, bukan hanya tanda status tetap.
Fenomena CALLE menunjukkan bahwa fashion Indonesia tidak lagi sekadar alat berpakaian, melainkan alat negosiasi identitas sosial. Ia menjadi ruang pertemuan antara budaya global dan lokal, antara kelas bawah dan menengah. Melalui fashion, anak muda Indonesia menunjukkan bahwa mereka bukan lagi sekadar konsumen tren luar negeri, melainkan produsen makna baru. Mereka mengolah simbol global menjadi ekspresi lokal, membentuk identitas kolektif yang cair, progresif, dan penuh ambivalensi.
CALLE membuktikan bahwa fashion dapat melampaui batas kelas sosial. Siapa pun bisa mengaksesnya, tapi hanya yang “paham maknanya” yang bisa benar-benar memilikinya. Lebih jauh, fashion seperti CALLE juga berperan dalam membangun rasa komunitas. Dengan tag “community” dan foto-foto berisi crowd event, CALLE menegaskan bahwa streetwear bukan hanya gaya, tetapi juga ruang sosial tempat solidaritas dan identitas kolektif terbentuk.
Melalui dua lensa teori, kita bisa melihat bahwa CALLE bukan hanya merek pakaian, tetapi fenomena sosial.
Dalam perspektif Simmel, Veblen, dan Bourdieu, CALLE merepresentasikan bentuk baru cara kelas sosial membedakan diri melalui simbol budaya dan selera, bukan melalui kekayaan di era urban muda.
Dalam perspektif Davis, CALLE menunjukkan bagaimana fashion menjadi alat ekspresi identitas yang cair dan ambivalen mencerminkan semangat bebas dari generasi muda Indonesia.
Di era di mana batas antara kelas, budaya, dan identitas semakin kabur, CALLE berdiri sebagai simbol perlawanan yang stylish sebuah bahasa visual anak muda untuk menegaskan bahwa identitas bukan sesuatu yang tetap, melainkan terus bergerak, seperti fashion itu sendiri.









Comments